Intime – Pemerintah terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia unggul melalui Program Sekolah Unggul Garuda.
Pada Tahun Ajaran 2026/2027, sebanyak empat Sekolah Unggul Garuda Baru telah resmi beroperasi dan mulai mendidik 307 siswa-siswi terpilih dari berbagai daerah di Indonesia
“Pada Tahun Ajaran 2026/2027, empat Sekolah Unggul Garuda Baru sudah beroperasi di Timor Tengah Selatan (NTT), Belitung Timur (Bangka Belitung), Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara), dan Bulungan (Kalimantan Utara),” ujar Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (19/8).
Menurut Qodari, selain membangun sekolah baru, pemerintah juga terus memperkuat kualitas sekolah-sekolah unggulan yang telah ada melalui skema Sekolah Unggul Garuda Transformasi (SUGT).
Dalam skema ini, sekolah yang diselenggarakan pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat dipilih berdasarkan rekam jejak keunggulannya untuk mendapatkan program pengayaan bagi peserta didik kelas XI dan XII, guru dan tenaga kependidikan (GTK), serta penguatan tata kelola sekolah.
Ia menjelaskan, pada 2025 pemerintah menetapkan 12 Sekolah Unggul Garuda Transformasi. Jumlah tersebut bertambah menjadi 30 sekolah pada 2026 sehingga kini terdapat 42 SUGT yang tersebar di 15 provinsi.
Sebaran terbanyak berada di Jawa Barat dengan tujuh sekolah, disusul DKI Jakarta dan Jawa Tengah masing-masing enam sekolah, Banten empat sekolah, serta Aceh dan Daerah Istimewa Yogyakarta masing-masing tiga sekolah.
“Pada tahun 2025 telah ditetapkan 12 Sekolah Unggul Garuda Transformasi yang disingkat SUGT, sedangkan tahun ini telah ditetapkan 30 SUGT. Secara sebaran, 42 SUGT tersebut berada di 15 provinsi,” jelasnya.
Pemerintah menargetkan jumlah SUGT meningkat menjadi 80 sekolah dalam lima tahun, dengan penambahan 20 sekolah pada 2027 dan 18 sekolah pada 2028.
Qodari juga mengungkapkan tingginya minat masyarakat terhadap Sekolah Unggul Garuda. Untuk Tahun Ajaran 2026/2027, sebanyak 307 peserta didik baru berhasil lolos seleksi dari 3.935 pendaftar yang telah melewati verifikasi tahap pertama. Komposisi peserta didik terdiri atas 150 siswa atau 49 persen dan 157 siswi atau 51 persen.
“Sekolah Unggul Garuda Baru mencatat 307 peserta didik baru untuk Tahun Ajaran 2026/2027, terdiri atas 150 siswa dan 157 siswi yang diseleksi dari 3.935 pendaftar yang lolos verifikasi tahap pertama. Jadi, ini seleksinya sangat ketat,” kata Qodari.
Ia menambahkan, proses seleksi tidak hanya mempertimbangkan prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan keragaman asal daerah peserta didik. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung tiga pilar utama Sekolah Unggul Garuda, yakni pemerataan akses pendidikan, pembentukan calon pemimpin masa depan, serta penguatan prestasi akademik dan pengabdian kepada masyarakat.
“Jadi, yang bersekolah di SMA Unggul Garuda Baru Belitung Timur bukan hanya dari provinsi yang bersangkutan, tetapi dari seluruh Indonesia,” ujar Qodari.
Hal serupa juga terlihat di SMA Unggul Garuda Baru Timor Tengah Selatan yang memiliki 76 peserta didik dari 20 provinsi, dengan proporsi terbanyak berasal dari NTT, DKI Jakarta, dan Sumatera Utara.
Sementara itu, SMA Unggul Garuda Baru Konawe Selatan mendidik 79 peserta didik dengan mayoritas berasal dari Sulawesi Tenggara, sedangkan SMA Unggul Garuda Baru Bulungan memiliki 76 peserta didik yang berasal dari Kalimantan Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, NTT, dan Sulawesi Tenggara.

