Babeh Idin dan Jalan Sunyi Menjaga Sangga Buana

Oleh: Hairullah (Penulis, penikmat kopi, dan traveler)

Di tengah Jakarta yang terus tumbuh dengan beton dan gedung-gedung tinggi, seorang lelaki sepuh memilih menghabiskan hidupnya bersama pohon, sungai, dan hutan. Dari Padepokan Sangga Buana, Babeh Idin merawat alam dengan cara yang sederhana: menanam, menjaga, dan percaya bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari kehidupan.

Suatu Hari di Sangga Buana

Di bawah pohon sengon yang seolah ikut menua bersama waktu, seorang lelaki sepuh terbaring pulas di pendopo Padepokan Sangga Buana.

Siang itu matahari Jakarta sedang garang. Namun, rimbun pepohonan menjadi payung alamiah, menahan sebagian teriknya agar tidak seluruhnya jatuh ke tanah.

Angin berembus pelan. Batang-batang bambu saling bergesekan, menimbulkan bunyi lirih—seperti simfoni sederhana yang dimainkan alam tanpa konduktor.

Di tempat ini, waktu terasa berjalan lebih lambat.

Beberapa saat kemudian, lelaki itu terbangun. Ia menatap kami bertiga. Suaranya terdengar parau ketika menyapa. Sedikit ketus, mungkin karena tidur siangnya terusik kedatangan kami.

Dialah Babeh Idin.

Namun, kekesalan itu perlahan luruh. Terlebih ketika matanya menangkap seorang anak perempuan berusia tiga tahun, Amira, yang duduk penuh rasa ingin tahu mendengarkan kisahnya tentang hutan, sungai, dan perjuangannya menjaga Kali Pesanggrahan.

Babeh Idin tersenyum.

“Anak ini demam alam, yeh.”

Ia kemudian mengajak kami menikmati minuman.

“Eh, ayo ngupi. Teh daun gahwa.”

Teh dan kopi panas segera dituangkan ke dalam gelas yang telah tersaji di atas meja.

Sederhana.

Namun, dari meja kecil di pendopo itulah percakapan kemudian membawa kami menyusuri perjalanan panjang seorang lelaki yang seolah telah menyerahkan sebagian besar hidupnya kepada alam.

Lelaki yang Memilih Jalan Sunyi

Nama aslinya Chaerudin. Ia lahir pada 13 April 1956 dan merupakan putra asli Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Pendidikan formalnya hanya sampai sekolah rakyat.

Tetapi alam menjadi sekolah keduanya.

Hutan menjadi ruang belajarnya. Sungai menjadi gurunya. Dan waktu menjadi buku yang tak pernah selesai ia baca.

Babeh Idin dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga Kali Pesanggrahan dan mengelola kawasan Hutan Kota Sangga Buana.

Ia kemudian bercerita tentang awal kedatangannya di kawasan tersebut.

“Kali pertama gue datang ke tempat ini, pelan-pelan gue bersihin sampah-sampahnya. Tanpa dukungan siapa-siapa. Tanpa sorotan kamera.”

Setelah itu, ia mulai menanam kembali berbagai vegetasi dan pepohonan di sekitar kawasan Kali Pesanggrahan.

“Kurang lebih 160 hektar.”

Saat itu, menurut ceritanya, tidak sedikit orang yang menganggap apa yang dilakukannya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.

“Waktu itu orang nyebut gue sudah gila.”

Mungkin memang begitulah nasib orang-orang yang berjalan lebih dahulu.

Ketika kebanyakan orang melihat tanah kosong, ia melihat hutan yang belum tumbuh.

Ketika orang lain melihat sungai yang kotor, ia melihat kehidupan yang sedang menunggu untuk diselamatkan.

Dan ketika orang bertanya untuk apa semua itu, ia memilih menjawab dengan kesetiaan yang panjang.

Bukan dengan spanduk.

Bukan dengan slogan.

Tetapi dengan menanam.

Belajar dari Setetes Embun

Bagi Babeh Idin, menjaga alam bukan sekadar perkara menanam pohon. Di baliknya ada cara pandang tentang kehidupan.

“Kite hidup mesti belajar banyak dari alam semesta.”

Ia kemudian memberikan perumpamaan sederhana.

“Lihat betapa pentingnya setetes embun di tumbuhan kala di padang pasir.”

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa mengetuk kesadaran.

Alam memang kerap mengajarkan sesuatu melalui hal-hal kecil.

Sebatang pohon mungkin tampak diam, tetapi akarnya bekerja dalam gelap. Sebuah sungai mungkin terlihat mengalir biasa, tetapi di dalamnya ada kehidupan yang bergantung. Dan setetes embun mungkin tampak kecil bagi mata manusia, tetapi bagi tumbuhan yang kehausan, ia bisa berarti kehidupan.

Barangkali begitulah Babeh Idin memandang dunia.

Tidak ada yang terlalu kecil jika menyangkut kehidupan.

Sangga Buana, Tiang yang Menyangga Bumi

Nama Sangga Buana sendiri menyimpan filosofi.

“Sangga” berarti tiang, penyangga, penopang, atau penyokong sesuatu yang berada di atasnya.

Sementara “Buana” merujuk pada bumi, dunia, alam semesta beserta seluruh isinya—air, udara, flora, fauna, dan manusia.

Dua kata itu kemudian seperti bertemu dalam satu gagasan:

menyangga kehidupan.

Padepokan itu bukan sekadar ruang berkumpul. Ia seperti sebuah pernyataan bahwa manusia memiliki kewajiban menjadi penyangga bagi alam yang selama ini menopang kehidupannya sendiri.

Di tengah Jakarta yang semakin padat, beton tumbuh lebih cepat daripada pohon.

Di tengah deru kendaraan dan gedung-gedung yang meninggi, Sangga Buana memilih tetap menunduk kepada tanah.

Dari Jakarta ke Hutan Aceh

Percakapan kemudian membawa kami ke masa muda Babeh Idin.

Ia bercerita bahwa sejak muda dirinya telah masuk ke kawasan Gunung Leuser, Gayo, dan Takengon.

Saya pun bertanya:

“Ngapain Babeh Idin ke Aceh?”

Ia menjawab bahwa ketika itu terdapat kerja sama dengan National Geographic, salah satunya berkaitan dengan pendataan harimau Sumatera yang masih hidup.

Di tengah hutan, ia juga beberapa kali bertemu dengan kombatan GAM Aceh.

Cerita itu disampaikannya tanpa dramatisasi. Seolah memasuki hutan, bertemu satwa liar, atau berpapasan dengan orang-orang bersenjata di pedalaman merupakan bagian biasa dari perjalanan hidupnya.

Padahal bagi banyak orang, hutan adalah tempat yang menakutkan.

Bagi Babeh Idin, hutan justru seperti rumah kedua.

Tentang Identitas dan Nama Betawi

Ada bagian lain dari percakapan yang menarik: soal identitas masyarakat Jakarta.

Babeh Idin tidak terlalu menyukai pelabelan “orang Betawi”.

Menurutnya, istilah tersebut memiliki sejarah panjang dan perlu dilihat secara kritis dari perspektif sejarah kolonialisme.

Ia lebih memilih menyebutnya sebagai suku Jakarta, yang ia kaitkan dengan sejarah perjuangan Pangeran Jayakarta—Fatahillah.

Pandangan itu tentu merupakan cara Babeh Idin membaca sejarah dan identitas Jakarta.

Di matanya, nama bukan sekadar sebutan.

Nama menyimpan ingatan.

Dan di balik ingatan selalu ada sejarah yang perlu terus dibicarakan.

Kopi yang Tumbuh di Tengah Jakarta

Ada kisah lain yang membuat kami semakin penasaran.

Sebuah pemberitaan Kompas pernah mengangkat cerita tentang tumbuh dan berbuahnya kopi Arabika, Liberika, dan Robusta di kawasan Sangga Buana.

Arabika umumnya dikenal tumbuh optimal di dataran yang lebih tinggi.

Lantas, bagaimana kopi bisa tumbuh di Sangga Buana?

Babeh Idin punya jawabannya.

Ia menjelaskan bahwa tanaman kopi di Sangga Buana mendapatkan asupan nutrisi dari bahan organik, termasuk hasil pengolahan tanaman bambu.

“Daun bambu kami jadikan kompos buat kopi yang kami tanam.”

Alam, rupanya, bekerja dengan cara yang sederhana.

Daun yang gugur tidak selalu berarti sampah.

Ia bisa menjadi kompos.

Kompos menjadi makanan bagi tanah.

Tanah memberi makan pohon.

Pohon memberikan buah.

Dan buah kembali menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Sebuah lingkaran kehidupan yang tidak pernah benar-benar putus.

Satu Jam yang Terasa Pendek

Percakapan kami berlangsung kurang lebih satu jam.

Namun, satu jam di Sangga Buana terasa seperti membuka halaman-halaman panjang tentang Jakarta yang mungkin selama ini luput dari perhatian.

Di sana kami bertemu seorang lelaki sepuh yang rambutnya mulai memutih. Suaranya parau, tetapi semangatnya terhadap alam belum kehilangan nyala.

Ia mungkin tidak memiliki pendidikan tinggi.

Tetapi hutan telah memberinya universitas.

Sungai memberinya pengetahuan.

Dan perjalanan hidup mengajarinya satu hal penting:

manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian kecil dari kehidupan yang jauh lebih besar.

Babeh Idin memilih jalan yang sunyi.

Tidak selalu ada tepuk tangan.

Tidak selalu ada kamera.

Tidak selalu ada penghargaan.

Tetapi pohon-pohon yang tumbuh di Sangga Buana adalah saksi.

Aliran Kali Pesanggrahan adalah saksi.

Burung-burung yang masih menemukan tempat berteduh adalah saksi.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anak-anak seperti Amira akan menjadi saksi berikutnya.

Kami pulang membawa rasa hormat.

Bukan hanya kepada Babeh Idin sebagai seorang pelestari lingkungan, tetapi juga kepada siapa pun yang memilih merawat kehidupan ketika banyak orang memilih mengabaikannya.

Semoga Babeh Idin dipanjangkan umurnya, diberikan kesehatan, dan terus menjadi bagian dari cerita panjang tentang Jakarta—tentang sungai, pepohonan, manusia, dan harapan.

Sebab di kota yang terus tumbuh meninggi, selalu dibutuhkan orang-orang yang mengingatkan kita untuk tetap berakar.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini