Orasi Kebudayaan FBR: Jakarta Boleh Modern, Jati Diri Jangan Hilang

Transformasi Jakarta menuju kota global tidak hanya membutuhkan kemajuan teknologi, ekonomi, dan infrastruktur. Di tengah perubahan tersebut, identitas dan kebudayaan masyarakat juga dinilai harus tetap menjadi fondasi.

Imam Besar Front Betawi Rempug (FBR), KH Lutfi Hakim, mengingatkan agar Jakarta tidak kehilangan jati diri ketika bergerak memasuki era baru sebagai kota global.

Pesan itu disampaikan KH Lutfi Hakim dalam rangka menyambut Hari Kebudayaan 2026 melalui agenda “Orasi Kebudayaan”.

Menurutnya, perubahan zaman berlangsung semakin cepat. Kota-kota di dunia berlomba membangun kemajuan, sementara teknologi membawa manusia memasuki fase kehidupan yang berbeda.

Namun, kemajuan tersebut menghadirkan pertanyaan penting: apakah masyarakat mampu menyambut masa depan tanpa meninggalkan identitas yang telah membentuknya?

“Ketika dunia berubah begitu cepat, ketika kota-kota berlomba menjadi pusat kemajuan, ketika teknologi membawa manusia memasuki era baru, apakah kita mampu melangkah ke masa depan tanpa kehilangan jati diri?” kata KH Lutfi Hakim.

Ia menegaskan, kebudayaan menjadi salah satu jawaban atas tantangan tersebut. Kebudayaan tidak semata-mata peninggalan masa lalu, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat yang terus berkembang.

“Jawabannya ada pada kebudayaan. Karena kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu. Kebudayaan adalah napas kehidupan,” ujarnya.

KH Lutfi Hakim juga menggambarkan kebudayaan sebagai ingatan kolektif yang menjadi akar bagi sebuah masyarakat untuk mempertahankan identitasnya di tengah perubahan.

“Kebudayaan adalah ingatan kolektif sebuah bangsa. Kebudayaan adalah akar yang membuat kita tetap berdiri kokoh ketika zaman terus berubah,” katanya.

Dalam konteks Jakarta, pesan tersebut menjadi relevan seiring dengan arah pembangunan Jakarta sebagai kota global. Kemajuan kota, menurut FBR, perlu berjalan beriringan dengan keberadaan budaya lokal, termasuk budaya Betawi yang menjadi bagian dari identitas Jakarta.

Jakarta yang semakin modern tidak harus berjarak dengan akar budayanya. Sebaliknya, kebudayaan dapat menjadi bagian dari kekuatan Jakarta dalam membangun karakter kota yang memiliki identitas sekaligus mampu berinteraksi dengan dunia.

Karena itu, momentum Hari Kebudayaan 2026 menjadi ruang refleksi agar pembangunan Jakarta tidak hanya berbicara mengenai kemajuan fisik dan teknologi, tetapi juga mengenai bagaimana karakter masyarakat dan warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan.

FBR pun menegaskan komitmennya untuk terus mengangkat pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari masa depan Jakarta.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini