Intime – Safari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke sejumlah daerah dinilai sulit dipisahkan dari kepentingan politik. Pengamat politik Ray Rangkuti menilai, meski Jokowi menyebut rangkaian kegiatannya sebagai ajang silaturahmi, aktivitas tersebut tetap mengandung pesan dan nuansa politik yang kuat.
Ray mengatakan, kegiatan yang dilakukan Jokowi tidak sekadar bertemu masyarakat. Dalam sejumlah kesempatan, menurut dia, agenda tersebut juga dihadiri kader partai politik dan disertai penyampaian pandangan yang berkaitan dengan dinamika politik nasional.
“Maunya disebut silaturahmi, tetapi yang didatangi kampanye di depan orang-orang partai,” kata Ray dalam tayangan YouTube Kanal SA, Selasa (7/7).
Menurut Ray, setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, Jokowi sejatinya memiliki dua pilihan peran di ruang publik. Pertama, menjadi negarawan yang lebih banyak memberikan pandangan mengenai persoalan kebangsaan secara umum. Kedua, tetap aktif sebagai politisi yang terlibat dalam dinamika politik praktis.
Ia menilai seorang negarawan umumnya tidak lagi terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengan kepentingan partai politik maupun kontestasi elektoral.
“Politisi negarawan itu setelah lengser hanya memberi nasihat soal kebangsaan yang bersifat makro, bukan berhubungan dengan urusan partai,” ujarnya.
Namun, Ray berpandangan Jokowi belum memiliki ruang yang cukup untuk mengambil posisi sebagai negarawan karena masih memiliki kepentingan politik yang berkaitan dengan masa depan keluarganya.
Menurut dia, tingkat elektabilitas dan popularitas anak-anak Jokowi, termasuk menantunya Bobby Nasution, masih berkaitan erat dengan tingkat penerimaan publik terhadap Jokowi.
“Anak-anaknya bergantung pada dirinya. Elektabilitas anaknya, popularitas anaknya tergantung pada dirinya, termasuk menantunya Bobby Nasution. Jadi turun popularitasnya, anaknya kena. Naik popularitasnya, anaknya juga kena,” katanya.
Atas kondisi tersebut, Ray menilai Jokowi akan tetap menjaga intensitas aktivitas politiknya di ruang publik. Menurut dia, menjaga eksistensi politik menjadi penting karena dapat memengaruhi modal politik keluarga yang kini juga berkiprah dalam dunia politik.
Karena itu, Ray memperkirakan safari ke berbagai daerah maupun agenda yang mempertemukan Jokowi dengan masyarakat dan kader partai akan terus berlangsung. Menurutnya, selama kepentingan politik keluarga masih melekat, sulit mengharapkan Jokowi sepenuhnya mengambil peran sebagai negarawan yang menjaga jarak dari politik praktis.

