Intime – Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir September 2026 masih sesuai rencana. Pernyataan itu disampaikan ketika defisit anggaran mencapai Rp319 triliun atau 1,24 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), di tengah meningkatnya volatilitas pasar.
Dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Jumat (9/10), Suahasil mengatakan defisit tersebut sejalan dengan desain APBN sejak awal tahun.
“Jadi ini on track. Kita menuju pelaksanaan APBN yang memang dari awal, sejak ditetapkan didesain untuk defisit,” ujar Suahasil.
Hingga 30 September 2026, pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun atau 74,2 persen dari target. Adapun belanja negara terealisasi Rp2.660,5 triliun atau 69,2 persen dari pagu.
Suahasil menyebut defisit meningkat dari sekitar 0,9 persen terhadap PDB pada bulan sebelumnya menjadi sekitar 1,2 persen pada akhir September. Angka tersebut merupakan bagian dari dinamika pelaksanaan anggaran sepanjang tahun.
Penerimaan pajak tercatat Rp1.607,6 triliun, tumbuh 24,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp240,1 triliun, naik 8,5 persen. Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak mencapai Rp492,3 triliun atau meningkat 41,7 persen secara tahunan.
Pada sisi pengeluaran, belanja pemerintah pusat mencapai Rp2.061,3 triliun atau 65,4 persen dari pagu. Belanja tersebut mencakup pembiayaan program prioritas, pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, infrastruktur, serta subsidi dan kompensasi energi.
Pengelolaan fiskal, menurut Suahasil, perlu mempertimbangkan perubahan kondisi ekonomi global. Kenaikan harga minyak dapat mendongkrak penerimaan sektor migas, tetapi pada saat yang sama meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi.
Tekanan juga datang dari suku bunga global yang masih tinggi dan volatilitas pasar keuangan. Dalam kondisi tersebut, pemerintah berupaya menjaga fleksibilitas pembiayaan, termasuk melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), sembari mempertahankan kepercayaan pasar.
“Yang paling penting di dalam menahan spread ini adalah kredibilitas. Kita dipercaya,” kata Suahasil.
Ia menegaskan kredibilitas menjadi modal penting agar APBN tetap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan melindungi masyarakat. Pemerintah, ujarnya, akan terus menjaga pengelolaan anggaran agar tetap kredibel di tengah ketidakpastian perekonomian dunia.

