Intime – Dampak pelemahan Rupiah disebut tidak mengenal kota atau desa. Pasalnya, harga kebutuhan, pupuk, hingga proyek pembangunan tetap bergantung pada barang impor.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto, menyebut pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa menuai kritik dari ekonom Dipo Satria Ramli.
Menurut Dipo, kenaikan Dolar justru tetap menekan ekonomi desa melalui lonjakan harga kebutuhan dan biaya produksi.
“Saya rasa kurang tepat kalau dolar itu tidak mempengaruhi ekonomi desa. Mikro ataupun makro,” kata Dipo dalam video yang diunggah di akun X pribadinya, Minggu (17/5).
Dipo menjelaskan, aktivitas ekonomi masyarakat desa masih sangat bergantung pada sektor yang terhubung dengan impor. Mulai dari BBM, pupuk, mesin pertanian, hingga distribusi logistik yang terdampak langsung oleh penguatan Dolar AS.
Ia juga menyoroti pelaku UMKM dan industri kreatif di desa seperti pengrajin batik maupun usaha berbahan plastik yang masih memakai bahan baku impor.
Tak hanya itu, Dipo menilai berbagai proyek pembangunan di desa, termasuk program koperasi merah putih, juga sulit lepas dari tekanan pelemahan Rupiah karena banyak material konstruksi masih didatangkan dari luar negeri.
“Pembangunan fisik itu banyak menggunakan bahan impor. Besi, baja, bahkan semen pun sekarang kita impor,” ujarnya.
Karena itu, Dipo menegaskan dampak pelemahan Rupiah tetap akan merembet hingga ke desa meski masyarakat tidak bertransaksi langsung menggunakan Dolar.
“Walaupun transmisinya tidak langsung, ujung-ujungnya dampaknya tetap akan terasa di level desa,” tandasnya.

