Dolar Tak Masuk Desa Dinilai Sesat Pikir, Ekonom Bongkar Bahaya Ilusi Ekonomi Prabowo

Intime – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pelemahan rupiah tidak perlu dikhawatirkan karena masyarakat desa tidak menggunakan dolar Amerika Serikat menuai kritik keras dari kalangan ekonom.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai logika tersebut menyesatkan karena mengabaikan keterikatan ekonomi desa dengan rantai pasok global yang tetap bergantung pada dolar AS.

Menurut Achmad, persoalan utamanya bukan apakah warga desa memegang dolar atau tidak, melainkan bagaimana gejolak nilai tukar memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari hingga ke pelosok perdesaan.

“Tidak ada desa yang benar-benar terisolasi dari ekonomi global. Pelemahan rupiah akan merembet ke harga pupuk, pakan ternak, BBM, hingga biaya produksi petani,” kata Achmad dalam keterangannya kepada intime, Minggu (17/5).

Ia menyebut anggapan bahwa desa kebal terhadap gejolak dolar sebagai “ilusi isolasi ekonomi” yang berbahaya bila dijadikan dasar kebijakan publik.

Achmad menyoroti kondisi rupiah yang terus tertekan sepanjang 2026. Pada pertengahan Mei, nilai tukar rupiah disebut telah menyentuh Rp17.614 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah. Kondisi itu terjadi setelah rupiah terus melemah sejak April, dari posisi sekitar Rp16.675 per dolar AS pada Januari 2026.

Di saat bersamaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami koreksi tajam hampir 20% secara year to date, meski Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 mencapai 5,61%.

Achmad menilai situasi tersebut menunjukkan adanya tekanan serius di pasar keuangan akibat arus modal keluar yang besar.

“Ini bukan sekadar angka di layar pasar saham. Dampaknya nyata di warung desa, di kios pupuk, diongkos distribusi bahan pangan,” ujarnya.

Untuk menggambarkan dampak ekonomi global terhadap desa, Achmad menggunakan analogi aliran sungai. Ia menyebut ekonomi global sebagai hulu sungai dan desa sebagai wilayah hilir yang tetap menerima dampak meski letaknya jauh dari pusat arus ekonomi dunia.

“Ketika hulu sungai tercemar atau debitnya menyusut, sawah di hilir pasti terdampak. Begitu pula ketika rupiah melemah, masyarakat desa tetap harus membayar lebih mahal untuk mempertahankan hidup,” katanya.

Ia menegaskan bahwa hubungan antara kurs dolar dan ekonomi desa bersifat langsung dan mekanis, sehingga tidak membutuhkan kesadaran masyarakat untuk bisa merasakan dampaknya.

“Petani mungkin tidak pernah memegang dolar, tapi mereka tetap membayar harga yang ditentukan oleh dolar,” pungkasnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini