Intime – Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green akan membawa sejumlah dampak bagi masyarakat. Menurutnya, setidaknya ada tiga konsekuensi yang perlu menjadi perhatian pemerintah.
“Paling tidak, dalam pandangan saya, sedikitnya ada tiga dampak yang dirasakan masyarakat karena naiknya BBM non subsidi ini,” kata Tulus, Minggu (14/6).
Dampak pertama, kata Tulus, adalah kemungkinan terjadinya perpindahan pengguna BBM dari Pertamax ke Pertalite, khususnya pada kendaraan roda dua. Meski demikian, ia mengingatkan langkah tersebut justru berisiko merugikan konsumen.
Menurut Tulus, kendaraan keluaran tahun 2000 ke atas telah dirancang menggunakan BBM dengan spesifikasi minimal RON 92. Sementara Pertalite memiliki angka oktan RON 90.
“Pertalite RON 90 berpotensi menyebabkan mesin mbrebet, ngelitik, bahkan mempercepat turun mesin. Jadi ending-nya malah konsumen dirugikan,” ujarnya.
Dampak kedua adalah terbukanya peluang penyalahgunaan dan penyelundupan BBM. Karena itu, pemerintah diminta memperkuat pengawasan serta langkah penegakan hukum.
“Pemerintah harus menegakkan mitigasi penegakan hukum dan pengawasan yang lebih tegas,” katanya.
Sementara dampak ketiga ialah meningkatnya beban pengeluaran masyarakat untuk transportasi. Tulus menilai kondisi tersebut seharusnya mendorong pemerintah mempercepat pembangunan dan integrasi transportasi publik.
“Ini yang harus menjadi dorongan pemerintah, untuk lebih fokus dan cepat mempersiapkan transportasi massal publik yang lebih terintegrasi,” ujar Tulus.
Ia pun mengimbau masyarakat, khususnya di kawasan Jabodetabek, mulai mempertimbangkan penggunaan moda transportasi massal seperti MRT, LRT, KRL, dan Transjakarta untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya membantu mengurangi beban biaya transportasi, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan polusi dan kemacetan di kota-kota besar.
Selain itu, Tulus meminta Pertamina menjamin kualitas pelayanan di SPBU. Ia menekankan pentingnya keakuratan takaran BBM dan kenyamanan fasilitas penunjang.
“Pertamina harus menjamin kepastian dan keandalan pelayanan di SPBU, terutama menyangkut keakuratan takaran, kebersihan musala, dan toilet,” pungkasnya

