Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menegaskan transformasi organisasi yang dijalankan PBNU berpijak pada lima prinsip Mabadi Khaira Ummah. Menurutnya, prinsip-prinsip tersebut tidak hanya menjadi pedoman moral, tetapi telah diterjemahkan ke dalam sistem organisasi modern yang memperkuat tata kelola, pelayanan, dan perlindungan bagi warga NU.
Gus Yahya menjelaskan konsep Saadatuna merupakan syarah atau penjabaran dari Mabadi Khaira Ummah yang digagas KH Mahfudz Shiddiq. Lima prinsip yang menjadi fondasi itu meliputi ash-shidqu (kejujuran), al-amanah wal wafa bil Ahdi (amanah dan menepati janji), al-adalah (keadilan), al-istiqamah (konsistensi), serta taawun (tolong-menolong dalam kebaikan).
Menurutnya, prinsip kejujuran menjadi dasar utama dalam membangun organisasi yang dipercaya masyarakat.
“Kejujuran adalah fondasi. Sebelum segala sesuatu, yang paling utama adalah kejujuran,” ujar Gus Yahya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (6/8).
Ia menegaskan prinsip tersebut kini diterapkan dalam tata kelola organisasi, termasuk dalam pengelolaan data warga NU. Menurutnya, data merupakan amanah yang harus dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan di luar kepentingan organisasi.
“Data warga adalah amanah, bukan milik pengurus. Karena itu kami membangun sistem yang menjamin keamanan data dan hanya digunakan untuk kemaslahatan warga,” katanya.
Gus Yahya juga menekankan pentingnya keadilan dalam pelayanan organisasi. PBNU, kata dia, terus membangun sistem agar seluruh pengurus dan warga NU, termasuk yang berada di daerah terpencil, memperoleh akses layanan dan fasilitas yang setara.
“Apa yang didapat cabang di Jakarta juga harus bisa dirasakan oleh warga NU di NTT maupun Papua,” ujarnya.
Selain itu, ia menilai pembangunan organisasi harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap periode kepengurusan memiliki tanggung jawab melanjutkan fondasi yang telah dibangun sehingga transformasi PBNU tidak terhenti di satu masa kepemimpinan.
“Yang baik tidak harus selesai di tangan satu orang dan tidak boleh terputus pada satu periode,” tegasnya.
Pada prinsip taawun, Gus Yahya mengatakan PBNU terus memperkuat sistem yang mampu mempercepat kolaborasi dan saling membantu antarwarga NU. Menurutnya, semangat gotong royong yang menjadi tradisi Nahdlatul Ulama kini diperkuat melalui tata kelola organisasi yang lebih terstruktur dan modern.
Ia menegaskan, implementasi lima prinsip Mabadi Khaira Ummah menjadi bagian dari upaya PBNU membangun organisasi yang profesional, akuntabel, dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh warga Nahdliyin.

