Intime – Harga minyak mentah dunia kembali melemah dan sempat bergerak di bawah level USD 80 per barel pada perdagangan Rabu (17/6). Tekanan harga dipicu meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya mendorong kenaikan premi risiko di pasar energi global.
Berdasarkan data dari Investing.com, pergerakan harga menunjukkan dinamika yang beragam. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik tipis 0,2 persen menjadi USD 76,28 per barel, sementara kontrak berjangka Brent justru ditutup melemah 0,3% ke posisi USD 79,13 per barel.
Sentimen pasar juga dipengaruhi laporan dari Reuters yang menyebutkan adanya rencana kesepakatan antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan, dengan penandatanganan nota kesepahaman di Swiss. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka tanpa hambatan, serta blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran akan dihentikan.
“Premi risiko geopolitik yang sebelumnya terakumulasi dalam harga minyak kini sedang dilepas secara agresif karena pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pulihnya aliran pasokan,” ujar Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade, seperti dikutip Reuters.
Selama konflik berlangsung, dunia sempat kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas akibat terganggunya Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan LNG.
Di sisi lain, pelaku pasar kini menyoroti kecepatan pemulihan produksi dan ekspor dari negara-negara produsen di Timur Tengah, serta potensi kembalinya aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
Dari sisi fundamental, tekanan tambahan datang dari data persediaan minyak Amerika Serikat. American Petroleum Institute melaporkan stok minyak mentah turun 8,33 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni, jauh lebih besar dari perkiraan penurunan 4,5 juta barel.
Namun, stok bensin tercatat naik 2,48 juta barel, sementara persediaan distilat—termasuk solar dan bahan bakar pemanas—turun tipis 10 ribu barel. Kondisi ini mengindikasikan permintaan yang masih kuat di tengah ketatnya pasokan jangka pendek di pasar Amerika Serikat.
Sejumlah analis dari Commonwealth Bank of Australia menilai bahwa meski risiko kenaikan harga masih terbuka jika pasokan belum pulih sepenuhnya, pasar berpotensi kembali mengalami surplus apabila arus minyak melalui Selat Hormuz kembali normal di kisaran 60–70% dari level sebelum konflik.

