Intime – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat pada perdagangan Rabu (17/6). Pelaku pasar saat ini masih bersikap wait and see menjelang sejumlah agenda penting, termasuk keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.
IHSG dibuka naik 66,99 poin atau 1,07% ke level 6.321,96. Sementara indeks LQ45 menguat 5,46 poin atau 0,87% menjadi 630,14.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan investor disarankan menunggu konfirmasi breakout level 6.300 sebelum memutuskan untuk melakukan average up.
“Masih ada beberapa event penting pekan ini yang berpotensi menimbulkan guncangan pasar, yakni RDG BI serta keputusan MSCI dan FTSE Russell,” kata Liza dalam kajiannya, Rabu (17/6).
Di pasar global, sentimen investor masih relatif positif meski mulai terlihat pergeseran strategi investasi. Survei Global Fund Manager Bank of America menunjukkan optimisme investor mendekati level tertinggi.
Namun, eksposur terhadap saham global turun dari 50% menjadi 38%, sedangkan alokasi pada sektor teknologi berkurang dari 33% menjadi 26%.
Sebaliknya, investor mulai meningkatkan porsi investasi pada pasar Jepang, sektor material, dan perbankan.
Sementara itu, 40% fund manager memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dalam 12 bulan mendatang. Sebanyak 55% responden juga memprediksi Ketua The Fed Kevin Warsh tetap mempertahankan sikap hawkish dalam pertemuan FOMC pekan ini.
Di sisi lain, harga minyak dunia kembali turun menjelang penandatanganan nota kesepahaman antara AS dan Iran di Swiss pada Jumat (19/6).
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan hasil review akses pasar MSCI, rebalancing indeks FTSE Russell, serta hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.
Pemerintah juga berencana menerbitkan Panda Bonds pada akhir Juni atau awal Juli 2026 guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memperkuat rupiah.
Bank Dunia masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% pada 2026 dan 5,2% pada 2027-2028, dengan dukungan konsumsi domestik, investasi, dan belanja pemerintah.

