Intime – Iran disebut siap membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Pernyataan itu disampaikan seorang pejabat senior pemerintah Iran kepada Reuters, Selasa (22/9). Iran juga disebut siap membuka kembali jalur diplomasi dengan AS.
Pejabat tersebut mengatakan Washington harus lebih dulu menyatakan secara resmi keinginan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi. Setelah itu, kedua negara dapat menyusun jadwal pembicaraan.
“Amerika Serikat perlu menyatakan bahwa mereka ingin menyelesaikan masalah ini secara diplomatis, menjadikannya resmi, kemudian menyepakati jadwal mengenai bagaimana proses tersebut akan berjalan,” katanya, Rabu (23/9)
Delegasi Iran yang berada di New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB disebut mendapat kewenangan penuh untuk menghidupkan kembali diplomasi dengan Washington.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga berangkat ke New York pada Selasa. Namun, pejabat Iran tersebut mengatakan Pezeshkian tidak akan bertemu langsung dengan Presiden AS Donald Trump di markas PBB.
Iran disebut telah mengirimkan proposal kepada AS melalui mediator pada 16 September. Pembahasan mengenai kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan kedua negara dapat dilakukan di New York melalui mediator.
“Majelis Umum PBB merupakan peluang emas bagi AS untuk kembali ke diplomasi,” ujar pejabat tersebut.
Namun, informasi mengenai tawaran pembukaan Selat Hormuz itu masih simpang siur. Reuters dan Kyodo mengutip pejabat senior Iran mengenai tawaran tersebut. Di sisi lain, laporan media mengenai pernyataan itu kemudian mendapat bantahan dari sumber Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut telah memicu kekhawatiran mengenai pasokan minyak dan gas serta berdampak pada pasar energi.
Harga minyak pun bergerak setelah kabar mengenai kemungkinan pembukaan Selat Hormuz muncul. Reuters melaporkan minyak Brent sempat turun lebih dari 2 persen karena pasar merespons kemungkinan berkurangnya gangguan pasokan.
Sebelumnya, lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga dilaporkan turun tajam. Data awal Reuters menunjukkan hanya dua kapal komoditas yang melintasi selat tersebut pada Senin, dibandingkan rata-rata sekitar 125 kapal komersial besar per hari sebelum konflik meningkat.

