Intime – Momentum Hari Buruh Internasional 2026 menjadi pengingat keras bahwa pekerja pers di Indonesia masih bergulat dengan persoalan mendasar: kesejahteraan rendah dan ketidakpastian kerja.
Ikatan Wartawan Hukum menyoroti banyak jurnalis yang bekerja di bawah tekanan tinggi, namun menerima upah yang tidak sebanding serta status kerja yang belum jelas.
Sekretaris Jenderal Iwakum, Ponco Sulaksono, menilai perubahan lanskap industri media semakin kompleks di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
“AI membawa peluang untuk meningkatkan efisiensi kerja jurnalistik, tetapi juga menghadirkan risiko, mulai dari pengurangan tenaga kerja hingga penurunan nilai kerja jurnalis,” ujarnya di Jakarta, Jumat (1/5).
Ia mengingatkan agar pemanfaatan teknologi tidak dijadikan alasan untuk menekan hak pekerja pers. “Jangan sampai AI dijadikan dalih untuk menekan upah atau mengabaikan perlindungan jurnalis. Teknologi seharusnya memperkuat kerja jurnalistik, bukan menggantikannya secara tidak adil,” tegasnya.
Ketua Umum Iwakum, Irfan Kamil, menilai kondisi tersebut tidak bisa terus dianggap wajar dalam industri media.
“Jurnalis menulis kebenaran, tetapi masih banyak yang dibayar dengan ketidakpastian. Ini ironi yang harus segera dibenahi. Upah layak dan kepastian kerja adalah bagian dari hak dasar pekerja pers,” ujarnya.
Menurutnya, kualitas demokrasi sangat bergantung pada kondisi kerja jurnalis. Pers sebagai pilar demokrasi tidak akan kuat jika kesejahteraan pekerjanya diabaikan. “Pers yang kuat hanya bisa lahir dari jurnalis yang dilindungi. Jika kesejahteraan diabaikan, independensi pers ikut terancam,” tambahnya.
Iwakum menilai perlu adanya komitmen bersama antara perusahaan media, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem pers yang sehat, adil, dan berkelanjutan—mulai dari perbaikan sistem pengupahan, kejelasan status kerja, hingga perlindungan jurnalis di tengah transformasi digital.
Pada momentum May Day ini, Iwakum menegaskan bahwa perjuangan pekerja pers adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan buruh secara keseluruhan.
“Menulis kebenaran tidak boleh lagi dibayar dengan ketidakpastian,” pungkas Kamil.

