Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan serta penanggulangan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Evaluasi dilakukan dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri, pimpinan lembaga, dan petinggi TNI di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (23/8) malam.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, rapat tersebut membahas sejumlah isu strategis, termasuk tindak lanjut instruksi Presiden terkait penanganan bencana dan distribusi bantuan kepada masyarakat terdampak.
“Presiden Prabowo Subianto memanggil beberapa menteri dan pejabat terkait untuk membahas beberapa isu strategis,” kata Teddy melalui unggahan Instagram @sekretariat.kabinet, Minggu malam.
Untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan, pemerintah menambah 17 pesawat water bombing serta mengerahkan 1.500 personel lengkap dengan perlengkapan pendukung.
Pemerintah juga mengirimkan 200 pompa beserta pipa untuk membantu pemadaman kebakaran di bawah permukaan lahan gambut.
Langkah tersebut dilakukan di tengah luas karhutla yang terus menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan data BNPB hingga Minggu (23/8), area terdampak karhutla di Indonesia mencapai 72.798 hektare. Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan luasan terbesar, yakni 38.310 hektare.
Selain karhutla, Prabowo juga mengevaluasi penanganan dampak gempa bumi di Flores, NTT. Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8) sempat memicu peringatan dini tsunami.
Aktivitas kegempaan masih berlanjut melalui ribuan gempa susulan. Hingga akhir pekan lalu, tercatat 5.688 gempa susulan, dengan gempa terbesar mencapai magnitudo 6,0. Khusus pada Minggu (23/8), sedikitnya 130 gempa susulan kembali terjadi.
Teddy menyebut dukungan pemerintah untuk NTT kini diarahkan pada proses rekonstruksi serta pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak.
Dalam rapat tersebut, Prabowo juga memberikan apresiasi terhadap respons cepat personel TNI-Polri dalam penanganan bencana di berbagai wilayah Indonesia.

