Oleh: Koordinator MPK HMI 2024–2026 Arri Edimar
Lokakarya Konstitusi HMI 2026 datang pada saat yang tepat. HMI sedang bergerak menuju usia satu abad ketika manusia berubah lebih cepat daripada organisasi mengubah dirinya.
Cara belajar, bekerja, bergaul, memperoleh pengakuan, bahkan mengukur keberhasilan telah berubah dalam satu generasi. Dunia digital membiasakan respons serba segera. Di dalamnya tumbuh pula logika transaksional dan instant ?
HMI tentu tidak berada di luar arus itu. Karena itu tema “Transformasi Organisasi Menuju 1 Abad HMI” yang diangkat Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi (PAO) PB HMI, Jumat (18/9), seharusnya tidak berhenti sebagai tema lokakarya konstitusi. Ia perlu menjadi kesempatan memeriksa dua mesin dasar organisasi: manusia yang hendak dibentuk dan rumah kelembagaan yang akan ditempatinya.
Konstitusi adalah jantung organisasi. Namun jantung tidak cukup sekadar berdetak; ia harus mengalirkan kehidupan. Konstitusi HMI tidak cukup mengatur forum, kewenangan, dan struktur. Ia harus mampu menjawab: apakah kehidupan organisasi hari ini masih efektif membentuk manusia HMI?
Di sinilah perkaderan harus dibaca lebih luas daripada sekedar training, jenjang, silabus, dan forum formal. Keseluruhan detik dan menit kehidupan di HMI adalah perkaderan. Cara mengambil keputusan, relasi antar kader, etika debat, mengelola dana, menghadapi kekalahan, mengejar jabatan, hingga penggunaan media sosial, semuanya adalah kurikulum. Dalam literatur ini disebut sebagai gagasan hidden curriculum: pelajaran yang lahir dari keseluruhan pengalaman hidup dalam sebuah institusi, bukan semata dari kurikulum resmi. Sejatinya HMI pun mempunyai hidden curriculum-nya sendiri.
Karena itu evaluasi bab perkaderan tidak cukup menghitung berapa training terlaksana. Yang lebih penting ialah mengukur seberapa jauh ekosistem kehidupan organisasi menginternalisasikan ideologi HMI ke dalam mental dan daya pikir kader.
Lima kualitas Insan Cita harus kembali menjadi ukuran hidup, bukan hafalan. Akademis, pencipta, dan pengabdi dalam visi HMI, hidup dalam tarikan dan hembusan napas Islam. Amar makruf nahi mungkar dan fastabiqul khairat menuntun manusia bertanya bukan hanya “saya dapat apa”, melainkan “untuk apa saya dihadirkan”.
Rumpun kedua adalah desain kelembagaan. Di sinilah Lokakarya Konstitusi perlu berani memasuki wilayah yang sudah mapan, termasuk format Kongres.
Kongres tidak boleh kebal dari evaluasi. Beberapa kongres yang telah dilalui mempelihatkan fakta yang cukup menjadi alasan bertanya: seberapa efektif dan efisienkah desain Kongres kita? Berapa besar energi organisasi tersedot pada kontestasi? Seberapa luas ruang yang tersedia bagi pertarungan gagasan? Apakah biaya sosial dan organisasionalnya sepadan dengan hasilnya?
Pertanyaan itu tidak berarti sistem yang ada pasti salah. Jika masih efektif, pertahankan. Namun bila evaluasi jujur menunjukkan mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya, HMI harus cukup berani membongkar pola yang telah mapan.
NU dan Muhammadiyah menunjukkan bahwa organisasi besar dapat mendesain mekanisme kepemimpinan sesuai karakter masing-masing. NU menggunakan AHWA dalam penetapan Rais Aam. Muhammadiyah memilih 13 anggota Pimpinan Pusat sebelum kepemimpinan ditetapkan melalui mekanisme internal. HMI tidak perlu meniru keduanya. Pelajarannya terletak pada keberanian melakukan ijtihad kelembagaan.
Bisakah Kongres HMI dibuat lebih singkat, substantif, hemat sumber daya, tetapi lebih kaya hasil? Bisakah teknologi memperkuat transparansi? Bisakah sistem pemilihan mengurangi energi transaksional dan mengembalikan Kongres sebagai forum menentukan arah organisasi?
Pertanyaan ini tidak hanya milik HMI. Banyak organisasi sosial Indonesia lahir pada abad ke-20 dan kini menghadapi dilema serupa: bagaimana mempertahankan nilai tanpa membekukan cara. Nilai dapat melampaui zaman, tetapi desain kelembagaan harus selalu bersedia diuji oleh zaman.
Di situlah Lokakarya Konstitusi memperoleh maknanya, dan ikhtiar PAO PB HMI membuka ruang ini layak diapresiasi. Ia jangan hanya menjadi meja redaksi yang memindahkan ayat, mengganti istilah, atau menambah pasal. Ia harus menjadi laboratorium organisasi: tempat pengalaman masa lalu diuji dengan pengetahuan hari ini dan imajinasi masa depan.
Kita hidup di abad ke-21. Jangan sampai input kader modern, sementara desain kelembagaan dan mentalitas organisasi sebagai ranah berproses masih tinggal di abad ke-20.
Menuju satu abad HMI, pertanyaannya bukan sekadar apakah HMI akan tetap ada, melainkan HMI macam apa yang tiba di sana.
Lokakarya Konstitusi 2026 dapat menjadi ikhtiar dasar, tetapi fundamental, untuk menjawabnya. Bukan dengan menghapus sejarah yang ditulis para pendahulu, melainkan dengan keberanian membaca zaman dan menulis sejarah yang belum terjadi.

