Mojtaba Khamenei Deklarasi Perang, Iran Ancam Tenggelamkan AS di Teluk Persia

Intime – Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bersumpah akan melindungi penuh kemampuan nuklir dan rudal negaranya sambil melontarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat (AS).

“Satu-satunya tempat yang pantas bagi pasukan AS dan kekuatan asing di kawasan Teluk Persiaadalah tenggelam di dasar laut,” sebagaimana dikutip dari France 24, Jumat, (1/5).

Pernyataan menantang itu dibacakan televisi pemerintah bertepatan dengan perayaan Hari Teluk Persia. Khamenei menyebut, dua bulan setelah eskalasi militer besar di kawasan, justru AS mengalami “kekalahan memalukan” dalam rencananya.

Pesan ini menjadi sorotan karena merupakan pernyataan resmi pertamanya sejak diangkat pada 9 Maret lalu, menyusul insiden serangan 28 Februari yang menewaskan pendahulunya, Ali Khamenei.

Lebih jauh, Khamenei kembali melabeli AS sebagai “Setan Besar” dan mengklaim pangkalan militer Washington di kawasan tidak lagi mampu menjamin keamanan mereka sendiri.

Ketegangan makin memuncak setelah Iran memperketat kontrol atas Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia. Teheran bahkan dilaporkan memberlakukan tarif hingga USD2 juta per kapal, langkah yang dikecam negara-negara Teluk Arab sebagai bentuk “pembajakan modern”.

Dampaknya langsung terasa: harga minyak mentah global melonjak tajam hingga USD126 per barel, memperlihatkan betapa strategisnya jalur tersebut dalam perekonomian dunia.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan berbagai opsi, mulai dari jalur diplomatik hingga kebijakan tekanan baru untuk membuka kembali akses Hormuz. Washington juga dikabarkan akan memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran guna memukul pendapatan minyak Teheran.

Di tengah eskalasi panas ini, Pakistan mencoba memainkan peran sebagai penengah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Tahir Andrabi, menyatakan pihaknya terus memfasilitasi komunikasi tidak langsung dan berharap kedua negara bisa duduk bersama meredakan ketegangan.

Sementara itu, Khamenei menegaskan bahwa program nuklir dan rudal balistik Iran adalah “garis merah” yang tidak akan pernah dinegosiasikan. Ia menyebutnya sebagai aset strategis setara dengan kedaulatan negara.

Namun di balik konflik eksternal, tekanan juga datang dari dalam negeri. Iran dilaporkan mengeksekusi seorang atlet karate muda, Sasan Azadvar, terkait aksi protes nasional. Kepala HAM PBB, Volker Türk, mencatat sedikitnya 21 eksekusi terjadi sejak konflik memanas akhir Februari lalu, memicu kecaman internasional terhadap penindakan keras pemerintah Iran.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini