Pemerintah Usut Penembakan di Pidie Aceh, Dorong Penyelesaian Polemik Bendera

Intime – Pemerintah Pusat sepakat mengusut tuntas kasus penembakan yang menelan korban jiwa saat penertiban Bendera Bulan Bintang di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh. Pemerintah berjanji akan melakukan penegakan hukum secara adil dan transparan.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan, pemerintah memberikan perhatian khusus atas peristiwa berdarah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut.

“Kami sangat prihatin dengan insiden di Tiro, Kabupaten Pidie, dengan tewasnya satu orang dan kita betul-betul sangat prihatin dengan keadaan ini,” ujar Yusril saat berada di Darussalam, Banda Aceh, Kamis (5/11).

Yusril menerangkan bahwa proses penyelidikan difokuskan untuk mengungkap fakta penembakan di lapangan sekaligus menentukan pihak yang bertanggung jawab secara hukum. Pemerintah menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban tewas, Abzalul Riza, serta mendoakan kesembuhan bagi belasan warga yang tengah menjalani perawatan medis.

Guna mencegah terulangnya kekerasan serupa di masa depan, Yusril telah menjalin komunikasi langsung dengan Panglima TNI dan Menko Polkam. Ia juga berencana berkoordinasi dengan Pangdam Iskandar Muda. Selain itu, Yusril mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh menyelesaikan polemik bendera secara damai, mengingat Gubernur Aceh Muzakir Manaf juga telah bertemu Presiden Prabowo Subianto guna membahas isu tersebut.

Sementara itu, Dinas Penerangan Angkatan Darat (Dispenad) melalui keterangan resminya pada Kamis (5/11) mengungkapkan, personel Kodim 0102/Pidie dan gabungan telah menempuh jalur dialog serta mediasi persuasif sebelum tindakan penertiban dilakukan di lokasi acara. Kendati demikian, panitia acara tetap menolak menurunkan Bendera Bulan Bintang.

Guna mengantisipasi dinamika lain di Pidie Jaya, aparat juga melakukan patroli komunikasi sosial terkait rencana kegiatan Syiar Aceh Merdeka, hingga lokasi acara dipindahkan dari Desa Udeung Poroh menuju Makam Abdullah Syafi’i di Desa Cubo.

Dalam proses penertiban di Meunasah Desa Pulo Keunari, suasana berubah ricuh akibat pelemparan batu, kayu, serta adanya warga yang membawa senjata tajam. Petugas yang bertindak awalnya mengandalkan peralatan PHH.

Namun, akibat desakan massa yang dinilai mengancam keselamatan personel, petugas menerapkan tindakan pengamanan berjenjang. Tembakan peringatan dilepaskan menggunakan amunisi hampa, lalu dilanjutkan amunisi karet hingga massa terdesak mundur. Penurunan bendera kemudian dilakukan sebagai langkah menjaga kedaulatan NKRI.

Dampak bentrokan tersebut mencatat 14 warga sipil menjadi korban, dengan rincian satu orang meninggal dunia dan 13 orang luka-luka, ditambah enam prajurit TNI yang menderita cedera. Jenazah Abzalul Riza telah dimakamkan pada Kamis pukul 01.00 WIB.

TNI AD menyatakan penyesalan mendalam atas peristiwa ini dan terus berkoordinasi dengan Polri serta pemda setempat. Penanganan keamanan dipastikan tetap mengedepankan pendekatan profesional demi memelihara kondusivitas Aceh.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini