Pengamat: MBG Jangan Berhenti di Piring, Dampaknya Harus Terukur

Intime — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak seharusnya berhenti pada persoalan berapa banyak makanan yang berhasil diproduksi dan dibagikan. Dampak program terhadap gizi, kesehatan, pendidikan, ekonomi lokal, hingga kualitas sumber daya manusia perlu menjadi bagian dari ukuran keberhasilannya.

Pengamat Denny, bersama lembaga riset dan pengembangan gagasan yang didirikannya, Mazendi, mencoba menyusun gambaran yang lebih utuh mengenai posisi MBG dalam pembangunan manusia Indonesia.

Denny mengatakan, MBG memang mudah dipahami sebagai program penyediaan makanan bergizi. Namun, jika satu porsi makanan ditarik ke belakang dan ke depan, terdapat rantai sistem yang jauh lebih besar.

Rantai tersebut mencakup produksi pangan, petani dan nelayan, rantai pasok, pengolahan, keamanan pangan, distribusi, konsumsi, kesehatan, pendidikan, ekonomi lokal, hingga kualitas sumber daya manusia.

“Yang ingin kami coba lakukan bukan membuat program baru dan bukan pula menggantikan apa yang sudah dilakukan pemerintah. Kami hanya mencoba menggambarkan keseluruhan sistemnya secara lebih utuh,” kata Denny.

Bukan Sekadar Jumlah Porsi

Menurut Denny, makanan seharusnya tidak dilihat sebagai titik akhir dari program MBG. Satu piring makanan justru menjadi pintu masuk untuk melihat apakah intervensi pemerintah benar-benar menghasilkan perubahan bagi penerima manfaat.

Pertanyaan yang perlu dijawab, kata dia, antara lain apakah asupan gizi anak membaik, apakah pertumbuhan dan kemampuan belajar meningkat, serta apakah keberadaan program turut menggerakkan petani, nelayan, pelaku usaha pengolahan pangan, dan ekonomi lokal.

“Keberhasilan tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak makanan yang dibagikan. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah makanan itu sampai kepada seorang anak,” ujarnya.

Karena itu, Mazendi memandang MBG sebagai bagian dari sebuah ekosistem besar. Di satu sisi terdapat pangan dan ekonomi, sementara di sisi lain terdapat gizi, kesehatan, pendidikan, dan pembangunan manusia.

Di antara seluruh mata rantai tersebut terdapat kebutuhan terhadap data, keamanan pangan, akuntabilitas, serta mekanisme umpan balik yang memungkinkan kebijakan diperbaiki berdasarkan hasil di lapangan.

Denny menilai berbagai institusi sebenarnya telah menjalankan bagian-bagian penting dari ekosistem tersebut. Tantangannya adalah bagaimana seluruh bagian itu dapat dibaca sebagai satu sistem yang saling terhubung tanpa menghilangkan kewenangan dan peran masing-masing lembaga.

Dengan perspektif tersebut, pertanyaan mengenai MBG menjadi lebih mendasar: apakah keberhasilan program cukup diukur dari jumlah makanan yang berhasil dibagikan, atau harus sampai pada perubahan nyata terhadap kualitas hidup penerima manfaat?

“Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak makanan yang kita bagikan, tetapi apa yang terjadi setelah makanan itu sampai kepada seorang anak,” kata Denny.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini