Intime – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati, menilai pernyataan Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus yang menyebut Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) meminta pengawalan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka hingga dua periode memunculkan sejumlah tafsir politik.
Menurut Wasisto, salah satu tafsir yang berkembang adalah upaya untuk meredam spekulasi mengenai hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Jokowi yang belakangan disebut-sebut mengalami keretakan.
“Benar,” kata Wasisto saat dimintai tanggapan mengenai dugaan bahwa pernyataan tersebut dimaksudkan untuk menepis isu renggangnya hubungan antara Prabowo dan Jokowi, Senin (22/6).
Namun, Wasisto berpandangan pernyataan tersebut tidak hanya berkaitan dengan isu relasi politik antara kedua tokoh. Ia menilai, pernyataan Bestari juga mencerminkan dinamika internal PSI yang masih berkomitmen mempertahankan pasangan Prabowo-Gibran pada Pemilihan Presiden 2029.
“Saya pikir pernyataan tersebut bagian dari dinamika politik, di mana PSI masih berkomitmen untuk menduetkan Prabowo-Gibran di 2029,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua DPP PSI Bestari Barus mengungkapkan bahwa Jokowi meminta kader dan simpatisan PSI untuk ikut mengawal pemerintahan Prabowo-Gibran, bahkan hingga dua periode kepemimpinan.
“Kepada kami beliau menyampaikan bahwa kita diminta untuk mengawal Pak Prabowo-Gibran ini, bahkan sampai dua periode,” kata Bestari.
Ia juga membantah berbagai spekulasi mengenai adanya “dua matahari” dalam pemerintahan saat ini. Menurut Bestari, tudingan tersebut tidak berdasar.
“Jadi tidak ada fitnahan tentang bakal ada dua matahari. Matahari bagaimana bisa dua? Ada-ada saja,” ujarnya.
Pernyataan tersebut kemudian memicu berbagai respons dan tafsir dari sejumlah kalangan. Sebab, isu mengenai hubungan antara Jokowi dan Prabowo sempat menjadi perbincangan setelah muncul berbagai spekulasi mengenai konfigurasi politik menjelang Pemilu 2029.
Di tengah dinamika tersebut, Wasisto menilai pernyataan PSI sekaligus menunjukkan bahwa partai berlambang mawar itu masih memandang pasangan Prabowo-Gibran sebagai poros politik yang ingin dipertahankan pada kontestasi lima tahunan mendatang.


