Intime – Ekonom senior Wijayanto Samirin menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penciptaan lapangan kerja sama-sama penting dan tidak perlu dipertentangkan.
Ia menanggapi pernyataan Kepala Bappenas Rachmat Pambudy yang menyebut MBG lebih mendesak dibandingkan penciptaan lapangan kerja.
“Dua-duanya penting, perlu dijalankan secara proporsional dan tidak perlu dibandingkan karena bukan apple to apple,” kata Wijayanto di Jakarta, Senin (2/2).
Wijayanto mengatakan, MBG dan lapangan kerja memiliki target dan tujuan berbeda, namun saling melengkapi dalam pembangunan. Menurutnya, memperdebatkan mana yang lebih penting justru kurang produktif.
“Mirip seperti mempertanyakan mana yang lebih penting, kurikulum atau fasilitas belajar. Keduanya sama-sama dibutuhkan,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah menjaga keseimbangan alokasi anggaran dan sumber daya agar tidak terjadi penekanan berlebihan pada satu program.
Wijayanto mengingatkan, fokus berlebih pada satu agenda berpotensi menggeser program lain yang juga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
“Yang perlu diperhatikan, jangan sampai satu program terlalu dominan dan mengorbankan program penting lainnya,” tegasnya.
Wijayanto juga menyinggung kondisi fiskal pemerintah yang sedang menghadapi tekanan. Ia mengingatkan agar implementasi MBG tidak dipaksakan secara berlebihan jika ruang fiskal terbatas.
“Dalam konteks ini, MBG jangan terlalu dipaksakan saat fiskal sedang kesulitan karena bisa mengganggu program penting lain, termasuk insentif untuk penciptaan lapangan kerja,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut MBG lebih mendesak untuk segera dijalankan. Menurutnya, pemenuhan gizi menjadi fondasi utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Rachmat mengatakan, meskipun lapangan kerja juga penting, kondisi riil di lapangan menuntut penanganan kelaparan lebih dulu. Ia mengibaratkan perdebatan tersebut seperti memilih antara memberi kail atau ikan.
“Kalau dikasih kail (lapangan kerja), sudah keburu mati. Saudara-saudara kita di pelosok desa itu lapar,” ujar Rachmat dalam Prasasti Economic Forum 2026, Kamis (29/1).

