Puan Minta Kasus Kematian Balita Nakla di Bulukumba Jadi Evaluasi Layanan Kesehatan

Intime – Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Nakla Syafira, balita berusia satu tahun di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Nakla meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat komplikasi sejumlah penyakit.

Puan meminta pemerintah menelusuri perjalanan penanganan kesehatan Nakla sejak pertama kali sakit hingga mendapatkan pertolongan medis. Dia menilai kasus tersebut harus menjadi evaluasi agar keluarga rentan bisa lebih cepat memperoleh layanan kesehatan.

“Dukacita mendalam atas berpulangnya adik Nakla Syafira, balita di Sulawesi Selatan yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit,” kata Puan dalam keterangan tertulis, Senin (2/11).

“Kita perlu memahami apa yang dihadapi pihak keluarga sejak anak mulai sakit, bagaimana mereka mencari pertolongan, dan dukungan apa yang diperlukan agar keluarga lain dapat memperoleh penanganan lebih awal,” lanjutnya.

Kasus Nakla sebelumnya viral di media sosial. Balita itu sempat dikabarkan meninggal dunia setelah tidak mendapat asupan makanan dan susu selama 10 hari.

Belakangan, informasi yang disampaikan menyebut Nakla bukan tidak memiliki bahan makanan. Dia mengalami sakit hingga kehilangan nafsu makan, termasuk radang tenggorokan akut yang tidak segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Nakla juga sempat mengalami demam dan kejang-kejang di rumah. Keluarga baru meminta bantuan perangkat desa ketika kondisinya tidak lagi bisa ditangani sendiri.

Nakla kemudian dibawa ke RSUD H Andi Sulthan Daeng Radja dalam kondisi kritis dan dirawat di ruang ICU.

Berdasarkan pemeriksaan medis, balita tersebut mengalami sejumlah gangguan kesehatan, antara lain gizi buruk, stunting, gangguan fungsi otak, gangguan pernapasan, dan kejang berkepanjangan. Dokter juga mencatat dugaan meningitis bakteri dengan kemungkinan penyebab virus serta craniosynostosis, yakni kondisi ketika sambungan tulang tengkorak menutup terlalu dini.

Selain itu, Nakla mengalami gastroenteritis akut tanpa dehidrasi, muntah darah, dan anemia penyakit kronis. Terdapat pula lebam yang disebut akibat terjatuh.

Puan meminta pemerintah daerah bersama fasilitas kesehatan memeriksa seluruh proses penanganan kasus tersebut dengan tetap menghormati keluarga dan tenaga medis.

“Penelusuran perlu memperjelas apakah keluarga menghadapi kesulitan mengenali kondisi yang membutuhkan pertolongan segera, memperoleh informasi, menjangkau fasilitas kesehatan, atau mendapatkan bantuan untuk membawa anak berobat,” ujarnya.

Menurut Puan, pemerintah tidak boleh langsung menyimpulkan adanya hambatan biaya, jarak, kepesertaan jaminan kesehatan, ataupun pelayanan tanpa memeriksa fakta dan mendengar pengalaman keluarga.

Diketahui, Nakla diasuh neneknya yang berasal dari keluarga tidak mampu. Ibu Nakla telah meninggal dunia, sementara ayahnya bekerja di luar Bulukumba. Keluarga sempat membawanya ke pengobatan tradisional sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Puan mendorong pemerintah memperkuat edukasi kesehatan, memperluas jangkauan layanan, serta melibatkan perangkat desa untuk membantu warga yang membutuhkan pertolongan.

“Setiap keluarga perlu mempunyai kepastian bahwa ketika anak sakit, ada pertolongan yang dapat mereka jangkau. Peristiwa di Bulukumba harus menjadi momen untuk memperbaiki pelayanan agar Negara dapat membantu lebih banyak anak memperoleh perawatan pada waktu yang dibutuhkan,” tutupnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini