Intime – Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas menilai wacana yang memasangkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Pemilihan Presiden 2029 lebih tepat disebut sebagai lelucon politik.
Menurut dia, duet tersebut sulit terwujud karena kekuatan politik personal Bahlil dinilai belum cukup kuat.
“Dalam politik segala kemungkinan memang bisa terjadi. Namun saya melihat duet tersebut sangat tidak mungkin karena secara kekuatan politik personal Bahlil masih sangat lemah,” kata Fernando di Jakarta, Kamis (11/6).
Fernando mengingatkan Bahlil maupun orang-orang di sekitarnya agar tidak terlalu percaya diri untuk maju dalam kontestasi Pilpres 2029. Ia menilai popularitas lagu MBG atau “Mas Bahlil Ganteng” yang belakangan ramai diperbincangkan tidak dapat dijadikan ukuran dukungan politik masyarakat.
Menurut dia, fenomena tersebut hanya sebatas hiburan dan tidak otomatis berbanding lurus dengan tingkat elektabilitas.
“Booming lagu MBG hanya sebatas hiburan dan tidak dibarengi dengan kesukaan terhadap pilihan politik kepada Bahlil,” ujarnya.
Fernando juga menyinggung sejumlah kebijakan yang berada di bawah tanggung jawab Bahlil sebagai Menteri ESDM. Ia menilai kinerja Bahlil masih kerap mendapat sorotan, termasuk terkait kenaikan harga Pertamax yang terjadi belakangan ini.
Selain itu, ia berpandangan program hilirisasi sumber daya alam yang selama ini menjadi salah satu agenda pemerintah belum menunjukkan hasil optimal. Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Fernando menduga munculnya wacana duet Bahlil dan Gibran juga bisa dimaknai sebagai upaya politik untuk mengganggu hubungan antara Presiden Prabowo dan Presiden ketujuh RI Joko Widodo.
“Bisa saja ada upaya membangun wacana untuk memecah hubungan Jokowi dengan Prabowo yang berakibat pada berakhirnya duet Prabowo-Gibran pada Pilpres 2029,” katanya.
Menurut Fernando, rencana Prabowo kembali maju pada Pilpres 2029 membuat persaingan di antara para ketua umum partai politik semakin terbuka. Masing-masing tokoh, kata dia, akan melakukan berbagai manuver agar dapat menjadi pendamping Prabowo.
“Karena peluang menang Prabowo dianggap besar, masing-masing ketua umum tentu berupaya menjadi pilihan dan menyingkirkan pesaing politik lainnya,” ujar Fernando.

