Intime – Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.800 per dolar AS di pasar offshore dinilai bukan sekadar dampak tekanan global. Melainkan cerminan beban ekonomi yang kini ditumpahkan ke kurs mata uang.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pemerintah saat ini memilih menahan gejolak inflasi dan harga energi demi menjaga daya beli masyarakat. Namun konsekuensinya, rupiah harus menanggung tekanan paling besar.
“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5).
Menurut dia, pelemahan rupiah yang kini melewati Rp17.800 per dolar AS menunjukkan pasar valuta asing menjadi “katup pelampiasan” akibat kebijakan domestik yang terlalu menahan penyesuaian harga.
“Kalau harga domestik dibuat rigid sementara tekanan global terus naik, maka pasar valuta asing akhirnya yang bergerak paling ekstrem,” ujarnya.
Fakhrul menilai pemerintah tengah menghadapi dilema berat antara menjaga stabilitas sosial dan mempertahankan kepercayaan pasar. Di satu sisi, kebijakan menahan harga energi dianggap penting secara politik dan sosial. Namun di sisi lain, tekanan ekonomi justru terkonsentrasi di pasar keuangan dan memperlemah rupiah secara agresif.
Ia menyebut fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif baik dibanding banyak negara berkembang lain. Inflasi masih terkendali, sektor perbankan sehat, dan pertumbuhan ekonomi tetap positif.
Namun, menurut Fakhrul, pasar saat ini tidak lagi hanya melihat data makro semata, melainkan juga konsistensi kebijakan pemerintah dan bank sentral dalam menghadapi tekanan global.
“Yang diuji sekarang bukan cuma fundamental ekonomi, tetapi kredibilitas dan konsistensi kebijakan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti ketidakseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai memperbesar tekanan terhadap rupiah. Menurutnya, ketika pemerintah memilih menjaga inflasi tetap rendah dengan penyesuaian harga yang sangat terbatas, maka Bank Indonesia dan rupiah dipaksa bekerja jauh lebih keras.
“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan adjustment harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” kata Fakhrul.
Di tengah libur Idul Adha 1447 Hijriah, rupiah di pasar offshore tercatat terus melemah. Berdasarkan perdagangan spot global pada Kamis (28/5) pukul 12.21 WIB, kurs rupiah berada di level Rp17.873,5 per dolar AS.

