Intime – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Jumat (22/5) pagi. Rupiah melemah 10 poin atau 0,06 persen ke level Rp17.677 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.667 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tekanan terhadap mata uang Garuda di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan derasnya arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang.
Analis menilai, posisi rupiah yang terus berada di kisaran Rp17 ribuan menjadi sinyal kuat bahwa pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global, suku bunga tinggi AS, hingga ketegangan geopolitik yang memicu penguatan dolar.
Selain faktor eksternal, pasar juga mencermati kondisi domestik, terutama kebutuhan dolar AS yang tinggi untuk impor dan pembayaran utang luar negeri. Jika tekanan berlanjut, pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan biaya impor, terutama untuk pangan, energi, dan bahan baku industri.
Situasi ini dinilai dapat berdampak langsung pada harga barang di dalam negeri dan memperbesar tekanan inflasi. Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak semakin terpuruk.

