Intime – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Jumat pagi. Mata uang Garuda turun 24 poin atau 0,14% ke level Rp17.357 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.333 per dolar AS.
Pelemahan rupiah menunjukkan tekanan eksternal masih kuat membayangi pasar keuangan domestik. Sentimen global, mulai dari penguatan dolar AS, ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat, hingga tensi geopolitik dunia menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, pasar juga masih mencermati arah kebijakan bank sentral AS The Fed yang diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut membuat arus modal asing cenderung bergerak ke aset dolar AS yang dianggap lebih aman.
Di sisi lain, level rupiah yang sudah menembus Rp17 ribu per dolar AS memberi sinyal bahwa pasar masih menunggu katalis positif kuat, baik dari dalam negeri maupun global. Jika tekanan berlanjut, Bank Indonesia diperkirakan akan semakin agresif menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar dan penguatan instrumen moneter.
Meski demikian, pelemahan rupiah juga menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat fundamental ekonomi, terutama menjaga neraca perdagangan, arus investasi, dan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.

