Intime – Tokoh Papua, Habelino Sawaki, meminta Presiden Prabowo tidak mengikuti pendekatan Joko Widodo (Jokowi) dalam penanganan Papua. Menurutnya, lebih baik belajar dari yang dilakukan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Belajar dari SBY dan Gus Dur dalam kelola Papua, jangan dari Jokowi,” katanya saat dihubungi di Intime di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Ia meminta demikian karena sekalipun Jokowi lebih intens mengunjungi Papua dan masif melakukan pembangunan saat menjadi presiden, tetapi intensitas konflik yang terjadi juga tinggi.
“Kalau intensitas konflik tinggi, makin marjinalisasi. Kenapa marjinalisasi tinggi saat pembangunan tinggi? Karena bangun jalan itu tidak meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Papua,” tegas alumnus Universitas Pertahanan (Unhan) ini.
Habelino pun meminta Presiden Prabowo melakukan refleksi atas segala kebijakan dan program yang dilakukan dalam penanganan Papua. Selain itu, menarik seluruh orang-orang yang ditugaskannya.
“Presiden Prabowo harus kocok ulang semua orang, semua satgas (satuan tugas), semua badan, terutama orang-orang yang didelegasikan tugas untuk mengurusi Papua karena intensitas konflik makin tinggi menunjukkan orang-orang itu tidak becus,” ungkapnya.
Menurut Habelino, penanganan Papua tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknokratis. “Urus Papua bukan kerja otak. Orang pintar di Jakarta banyak. Tapi kenapa tidak mampu kelola Papua?”
“Prabowo harus ganti semua orang-orang yang ditugaskan dan bentuk badan baru karena orang-orang sekarang tidak punya hati tulus untuk mengurus Papua. Orang-orang yang dipakai sekarang, kan, dari Jokowi, tetapi dipakai lagi untuk urus Papua. Pemerintah pusat harus berpikir secara jauh,” sambungnya.
Habelino meyakini Prabowo dapat melakukan ini. Sebab, pernah melakukan penyelamatan peneliti Ekspedisi Lorentz 95 yang disandera kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Jayawijaya.
“Beliau ini dapat rising star di Papua di kasus Mapenduma, [dapat] bintang satunya. Seharusnya bliau memiliki pengalaman yang mendalam tentang Papua, pengalaman spiritual, pengalaman psikologis. Teman-teman seangkatan belum bintang satu, dia duluan,” ujarnya.

