Intime – Dua ikon perubahan Tiyo Ardianto dan Dhana Baswara, bertemu dalam diskusi di Solo dan membahas masa depan generasi muda Indonesia. Dari pertemuan itu, keduanya menggagas “Archipelagic Thinking” atau berpikir kepulauan untuk mendorong kebijakan yang lebih sesuai dengan karakter tiap daerah.
Tiyo Ardianto merupakan mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia dikenal aktif membahas persoalan sosial dan masa depan generasi muda Indonesia dan kini tengah menyelesaikan tugas akhirnya.
Adapun Dhana Baswara menempuh pendidikan kebijakan publik di Universitas Sussex, Inggris. Dalam diskusi tersebut, Dhana menceritakan pengalamannya melihat masyarakat Inggris yang tetap mempertahankan tradisi meski hidup dalam sistem sosial yang terbuka dan liberal.
Keduanya kemudian melihat pentingnya Indonesia membangun cara pandang yang mempertimbangkan karakter sebagai negara kepulauan. Menurut mereka, Indonesia memiliki kondisi sosial, budaya, dan geografis yang berbeda-beda sehingga kebijakan pemerintah tidak bisa diseragamkan.
Mereka menyebut pendekatan “one size fits all” perlu ditinggalkan. Kebijakan, menurut keduanya, harus memperhatikan kebutuhan dan karakteristik masing-masing daerah.
Gagasan tersebut rencananya akan dibawa dalam roadshow ke berbagai wilayah Indonesia. Tiyo dan Dhana ingin berdialog langsung dengan generasi milenial dan Gen Z untuk mendengar gagasan mereka tentang masa depan daerah.
“Kita akan lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kita ingin mendalami pemikiran anak muda dari seluruh Indonesia mengenai masa depan daerah mereka,” kata Tiyo, Senin (24/8).
Dhana mengatakan konsep roadshow masih dimatangkan. Sejumlah format yang dipertimbangkan antara lain diskusi terbuka, siniar, dan dokumenter.
RayaTimes, platform media dan siniar yang dirintis Dhana, juga direncanakan menjadi salah satu mitra media kegiatan tersebut.
Bagi Tiyo, menyiapkan generasi baru merupakan kebutuhan mendesak. Dia menilai Indonesia tengah menghadapi persoalan moral dan etika di kalangan elite yang membutuhkan perubahan mendasar.
“Krisis ini sudah sangat akut, untuk menyelesaikannya harus dipotong satu generasi. Kita tidak bisa mengharapkan perubahan terjadi dari generasi sekarang, kita harus menyiapkan generasi masa depan,” tegasnya.
Tiyo optimistis Indonesia memiliki modal besar untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Modal tersebut antara lain keberagaman sosial dan budaya serta kekayaan alam.
“Di tangan generasi muda yang punya kesadaran moral dan budaya yang tinggi, potensi Indonesia Emas bisa terwujud,” pungkas Tiyo.

