Intime – Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, melontarkan kritik terhadap respons pengamat politik Rocky Gerung mengenai satire yang disampaikan Tiyo Ardianto. Menurut Ubedilah, kritik di ruang publik merupakan hal yang lazim, namun seharusnya diarahkan pada substansi gagasan, bukan pada pilihan kata yang digunakan pembuat satire.
“Rocky mestinya membongkar ide dan argumen di balik satire itu, bukan menuduh Tiyo bodoh dan tanpa argumen. Padahal Rocky belum menguji argumen atau pikiran Tiyo di balik satirnya,” kata Ubedilah dalam keterangannya, Jumat (3/7).
Ubedilah menjelaskan, ungkapan “Prabodoh Subiantolol” yang menjadi sorotan merupakan bagian dari cerita satir yang dibawakan Tiyo. Dalam cerita itu, Tiyo mengisahkan seekor kucing yang terluka dan sedang diobati. Namun, alih-alih menerima pertolongan, kucing tersebut justru terus mencakar orang yang berusaha mengobatinya. Di akhir cerita, kucing itu kemudian diberi nama “Prabodoh Subiantolol”.
Menurut Ubedilah, penggunaan diksi tersebut merupakan bentuk satire simbolik yang memiliki ruang dalam tradisi sastra kritis.
Ia kemudian mengutip pendapat kritikus sastra M. H. Abrams dalam buku A Glossary of Literary Terms yang mendefinisikan satire sebagai karya sastra yang bertujuan menjadikan suatu objek tampak menggelikan sehingga memunculkan rasa geli, penghinaan, cibiran, maupun kemarahan.
Karena itu, kata Ubedilah, apabila satire tersebut memunculkan rasa tersinggung, hal tersebut justru menunjukkan fungsi satire berjalan sebagaimana mestinya.
“Jika satire Tiyo membuat sekelas Rocky Gerung gerah, berarti satire itu berhasil,” ujarnya.
Selain mengkritik substansi tanggapan Rocky, Ubedilah juga menyoroti waktu penyampaian kritik tersebut. Menurutnya, Rocky tidak memberikan respons ketika Tiyo menyampaikan satire dalam forum yang sama, melainkan baru mengomentarinya beberapa hari kemudian dalam forum yang berbeda.
Ia juga mempertanyakan klaim Rocky yang menyebut dirinya ikut dipersoalkan karena dianggap memprovokasi Tiyo. Menurut Ubedilah, hingga kini belum ada informasi mengenai laporan polisi sebagaimana disampaikan Rocky.
Di bagian akhir, Ubedilah menilai satire Tiyo tidak bisa dikategorikan sebagai serangan personal ataupun sarkasme langsung kepada seseorang. Menurutnya, cerita mengenai kucing yang menolak diobati merupakan sebuah perumpamaan yang mengajak publik memahami kritik sebagai bentuk “obat”.
Adapun penafsiran bahwa nama dalam satire tersebut merujuk kepada Presiden Prabowo Subianto, menurutnya, merupakan interpretasi masing-masing pihak, bukan sesuatu yang dinyatakan secara eksplisit oleh pembuat satire.


