Intime – Sebanyak 2.387 warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terdeteksi memiliki indikasi awal gejala depresi. Temuan itu muncul dari skrining program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang terintegrasi dalam aplikasi SATUSEHAT Indonesiaku.
Kelompok usia muda menjadi perhatian utama. Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel mencatat warga berusia 15-24 tahun, yang banyak berasal dari kelompok Gen Z, mendominasi temuan indikasi tersebut.
Kepala Dinkes Tangsel dr. Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan kelompok usia tersebut menghadapi banyak perubahan dalam kehidupan yang dapat memicu tekanan psikologis.
“Pada usia tersebut, seseorang menghadapi berbagai masa transisi seperti pendidikan, pencarian pekerjaan, pembentukan hubungan sosial, serta tekanan untuk mencapai kemandirian,” kata Allin kepada wartawan, Kamis (3/9).
Tekanan tersebut dapat semakin berat karena ritme kehidupan perkotaan yang cepat. Anak muda juga menghadapi persaingan dunia kerja serta ekspektasi sosial yang semakin tinggi di era digital.
Selain itu, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko depresi, di antaranya penyakit kronis, gangguan tidur, isolasi sosial, dan kerentanan biologis.
Meski begitu, Allin meminta masyarakat tidak langsung mengartikan angka 2.387 sebagai jumlah warga yang mengalami depresi. Sebab, angka tersebut merupakan hasil skrining awal dan bukan hasil diagnosis dokter.
“Angka tersebut perlu dipahami sebagai hasil skrining awal dan bukan diagnosis depresi secara klinis, sehingga warga yang teridentifikasi tetap memerlukan asesmen lebih lanjut oleh tenaga kesehatan,” jelasnya.
Dinkes Tangsel kini mengaktifkan penanganan berjenjang melalui puskesmas. Warga yang terindikasi akan diarahkan untuk mendapatkan layanan medis dan konseling psikologis. Jika dibutuhkan, warga juga dapat memperoleh rujukan untuk penanganan lebih lanjut.
Upaya pencegahan turut dilakukan dengan memperluas edukasi kesehatan mental. Sosialisasi menyasar lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja, hingga Posyandu.
Allin mengimbau anak muda yang merasa kewalahan menghadapi tekanan kehidupan agar tidak memilih diam atau memendam persoalan sendirian.
“Kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan layanan CKG gratis di Puskesmas. Jika mengalami keluhan, jangan ragu datang ke Puskesmas untuk skrining dan konseling lebih lanjut,” ujarnya.
Dia menekankan akses terhadap layanan kesehatan mental tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Skrining sejak awal, menurutnya, penting agar warga yang membutuhkan dapat segera memperoleh bantuan yang sesuai.

