Dolar Menguat, Desa Menjerit: Petani dan Peternak Jadi Korban di Ujung Rantai Global

Intime – Penguatan dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan dampak berlapis hingga ke sektor paling dasar: pertanian perdesaan. Kenaikan biaya impor tidak hanya mengguncang pasar finansial, tetapi langsung menekan biaya produksi petani dan peternak di daerah.

Hari Senin (18/5), nilai tukar rupiah pada perdagangan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah turun 33 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.630 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.597 per dolar AS.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menegaskan bahwa pelemahan rupiah telah berubah menjadi beban nyata di lapangan.

“Ini bukan sekadar fluktuasi kurs, tapi tekanan langsung ke desa,” ujarnya dalam keterangannya, Minggu (17/5).

Menurutnya, fenomena imported inflation membuat sektor pertanian Indonesia semakin rentan karena ketergantungan tinggi pada bahan baku impor, terutama di sektor peternakan. Sekitar 70% bahan pakan seperti jagung dan soybean meal masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Di tengah Mei 2026, harga jagung tercatat mencapai Rp7.000 per kilogram dan soybean meal berada di Rp8.700 per kilogram. Kenaikan ini memicu tekanan serius bagi peternak mandiri.

“Yang paling terpukul itu peternak kecil, bukan pemain besar,” tegasnya.

Kenaikan harga pakan juga berlangsung bertahap. Pada April naik sekitar Rp200 per kilogram, disusul kenaikan serupa di awal Mei, dengan potensi tambahan hingga Rp250 per kilogram. Dalam dua bulan, lonjakan total mencapai Rp400–Rp650 per kilogram.

Di sisi lain, pasar pupuk global juga bergejolak akibat ketegangan geopolitik dan terganggunya jalur perdagangan utama. Harga urea dunia melonjak lebih dari 40%, memperburuk tekanan biaya produksi pangan.

Pemerintah memang menurunkan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sebesar 20%, yakni Rp1.800 per kilogram untuk urea dan Rp1.840 per kilogram untuk NPK. Namun kebijakan ini dinilai belum menjangkau seluruh petani.

“Subsidi itu ada, tapi tidak merata,” kata Achmad.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada April 2026 berada di level 125,24 atau turun 0,09 persen. Kenaikan biaya produksi yang lebih cepat dibanding harga hasil panen membuat margin petani terus tergerus.

“Angkanya kecil, tapi tekanannya nyata dan terus menumpuk,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini