Intime – Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai pergantian Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) tidak akan menyelesaikan persoalan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) jika tidak diikuti reformasi tata kelola yang menyeluruh.
“Pergantian pimpinan memang dapat memulihkan kepemimpinan, tetapi tidak otomatis memperbaiki tata kelola. Persoalan utama MBG ada pada sistem pengadaan, penyaluran anggaran, pemilihan mitra, keamanan pangan, hingga mekanisme pengawasannya,” kata Achmad Nur Hidayat, dalam keterangannya, di Jakarta, Kamis (23/7).
Menurutnya, komitmen Kepala BGN yang baru, Sudaryono, untuk menerapkan transparansi, digitalisasi, dan nol toleransi terhadap korupsi harus dibuktikan melalui langkah yang terukur. Ia menilai perubahan anggaran MBG 2026 dari rencana awal Rp335 triliun menjadi Rp229 triliun menunjukkan desain program masih belum stabil, mulai dari jumlah penerima, biaya per porsi, hingga kapasitas pelaksanaan.
Achmad juga menyoroti besarnya jaringan transaksi dalam program MBG yang melibatkan puluhan ribu pemasok dan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, tanpa keterbukaan data mengenai pemasok, biaya per porsi, penerima manfaat, dan aliran anggaran, pengawasan akan selalu tertinggal dari pencairan dana.
Selain itu, ia menilai aspek keamanan pangan masih menjadi pekerjaan rumah. “Operasional dapur seharusnya baru dilakukan setelah seluruh standar higiene dan sanitasi terpenuhi, bukan sebaliknya,” ujarnya.
Ia menegaskan status MBG sebagai program prioritas Presiden tidak boleh menutup ruang evaluasi. Pemerintah, kata dia, tetap dapat memperbaiki desain program dengan memprioritaskan kelompok paling rentan, menghentikan mitra yang tidak memenuhi standar, serta mengaitkan pencairan dana dengan hasil audit dan kepatuhan terhadap standar layanan.
“Ukuran keberhasilan MBG bukan besarnya anggaran atau banyaknya porsi yang dibagikan, melainkan keamanan pangan, perbaikan status gizi, ketepatan sasaran, efisiensi biaya, dan kemampuan negara mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang dibelanjakan,” kata Achmad.

