Gaya Kepemimpinan Purbaya Dinilai Tegas dan Substantif, Soroti Efisiensi Fiskal

Intime – Direktur Politic and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie menilai gaya kepemimpinan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi tengah menjadi sorotan publik.

Menurutnya, pendekatan Purbaya yang tegas dan langsung pada substansi membuatnya tampil berbeda di antara jajaran pejabat pemerintahan.

“‎Gaya koboinya membuat orang terposona dan terpikat dengan sifat bersahaja bukan pencitraan tapi kerja nyata. Ini pemimpin asli bukan tiruan, bukan seperti gaya Gibran dengan bagi-bagi skincare tapi otak kosong,” kata Jerry, Rabu (22/10).

Jerry memberikan perbandingan dengan gaya kepemimpinan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dia menyoroti ketika Gibran memanggil Purbaya untuk urusan transfer dana daerah, namun tidak digubris.

”Gibran sempat memanggil Menkeu Purbaya. Menurut saya, wajarlah Gibran memanggilnya, lantaran coba membantu dan menyelamatkan Bobby sang ipar sebagai Gubernur Sumut,” ujarnya.

Jerry menilai seluruh aksi dan kebijakan Purbaya tetap disorot publik meski dilakukan tanpa membawa tim media, berbeda dengan pola yang penuh drama dan settingan ala Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

‎”Yang menarik, tak ada satupun yang ditakuti Purbaya selain Tuhan dan Presiden. Dia pun melontarkan pernyataan bahwa usianya sudah tua apa yang harus dia kejar, sekalipun mati ditembak atau seperti Munir diracun dia tak gentar. Dirinya akan terus memberantas oknum pajak dan bea cukai yang nakal,” ujarnya lagi.

Sebagai menteri yang beraliran mazhab ekonomi Keynesian, Purbaya disebut telah membongkar sejumlah kejanggalan dalam keuangan negara.

Misal, dana yang mengendap di bank atau dana deposito yang berjumlah Rp 265,6 Triliun. Bahkan dana sitaan korupsi minyak sawit Kejagung Rp 13 triliun dikembalikan oleh Kejagung ke Kementerian Keuangan dan masih tersisa Rp 4 Triliun.

”Bahkan ide gila dia menarik dana Rp 200 Triliun yang selama ini disimpan di Bank Indonesia (BI) ke bank BUMN dan disalurkan ke bank-bank pemerintah di Danantara,” tutur dia.

Genderang perang dingin dengan Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi, juga mulai ditabuh. Jerry menyebut Purbaya cepat membaca siasat Luhut yang ingin “mengelabui” Presiden Prabowo Subianto.

“Saya pikir siasat LBP yang mau mengelabui Prabowo cepat dibaca oleh Purbaya dan tak akan mengeluarkan anggaran terhadap ide sesat LBP,” ungkapnya.

Penolakan tegas juga diberikan Purbaya terhadap pembayaran hutang proyek kereta cepat yang digagas era Jokowi-Luhut. Jerry menduga terjadi konspirasi dan mark-up dalam proyek tersebut.

‎”Bayangkan saja bunga cukup besar dari proyek berbandrol Rp116 Triliun. Jadi konspirasi proyek gagal ini antara China kongkalikong dengan LBP dan disetujui Jokowi menurut laporan terjadi mark up 3 kali lipat. Dan harus dibayar oleh pemerintah melalui APBN?” kata Jerry dengan nada tanya.

Kebijakan spektakuler Purbaya lainnya, yakni membongkar deposito yang di taruh di bank dari sejumlah provinsi dan daerah.

‎Kabupaten terbesar yang menyimpan APBD di bank yakni Bojonegoro Rp 3,6 triliun, Kutai Barat Rp 5,2 triliun dan Talaud Rp 2,6 triliun. Kalau Provinsi DKI Jakarta, Rp 16,68 triliun Jatim Rp 6,84 triliun, dan Kaltim Rp4,7 triliun, jadi total deposito di bank mencapai Rp 60,2 triliun.

‎”Yang saya pertanyakan bunga bank ini mengalir ke mana? Perlu PPATK mengusut tuntas. Saya kira banyak menteri yang geram atas kebijakan Purbaya yang pro rakyat, buktinya dalam rapat terbatas para menteri dengan presiden tak ada yang menyapanya,” pungkasnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini