Intime – Ketua Fraksi Partai Golkar DPR, Muhammad Sarmuji, meminta pemerintah memanfaatkan penurunan harga minyak dunia pascatercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Hal ini, untuk memperkuat kondisi fiskal dan mendorong pemulihan ekonomi nasional.
“Ini momentum yang tidak boleh disia-siakan. Pemerintah harus bergerak cepat dan terukur untuk mengonversi perdamaian ini menjadi manfaat nyata bagi rakyat Indonesia,” kata Sarmuji, Selasa (16/6).
Menurutnya, turunnya harga minyak berpotensi mengurangi beban subsidi energi sehingga membuka ruang fiskal yang lebih luas bagi pemerintah. Anggaran yang selama ini digunakan untuk menutup pembengkakan subsidi dapat dialihkan ke sektor-sektor produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan perlindungan sosial.
“Anggaran yang sebelumnya terpaksa dialokasikan untuk menutup pembengkakan subsidi dapat difokuskan pada sektor strategis dan prioritas yang manfaatnya lebih langsung dirasakan rakyat,” ujarnya.
Sarmuji juga menilai meredanya ketegangan geopolitik global dapat menekan biaya impor energi, menurunkan biaya produksi dalam negeri, serta membantu menjaga inflasi dan daya beli masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah agar tidak terlena. Konflik yang sempat mengganggu jalur distribusi energi dunia melalui Selat Hormuz menunjukkan bahwa ketahanan energi Indonesia masih rentan terhadap gejolak global.
“Perdamaian ini tidak menghapus kerentanan itu. Justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk membangun ketahanan energi yang sesungguhnya,” tegasnya.
Selain memperkuat ketahanan energi, Sarmuji mendorong pemerintah memperluas kerja sama perdagangan dan energi dengan negara-negara Timur Tengah, termasuk Iran, guna membuka peluang ekspor baru bagi produk Indonesia.
“Golkar berharap kesepakatan ini menjadi titik awal rekonstruksi kawasan yang lebih stabil, adil, dan damai, bukan sekadar gencatan senjata di atas kertas,” pungkasnya.

