Intime – Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr. Daryono menyoroti hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal di perairan Selat Sunda saat aktivitas vulkanik Anak Krakatau berlangsung.
Menurut Daryono, fenomena lontaran lava dan kepulan asap Anak Krakatau yang menarik perhatian dari sisi visual menyimpan risiko keselamatan, terutama bagi kapal yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.
“Ini menjadi pengingat memilukan bahwa dedikasi tinggi dalam mengabadikan fenomena alam kerap berbatasan langsung dengan garis tipis keselamatan jiwa,” kata Daryono, Senin (14/9).
Daryono mengatakan, berdasarkan analisis kondisi lapangan, terdapat sejumlah hipotesis yang dapat menjelaskan hilangnya kontak dengan delapan orang tersebut.
“Analisis kondisi lapangan menunjukkan bahwa hilangnya perahu jurnalis ini hampir pasti dipicu oleh kombinasi mematikan antara dinamika oseanografi Selat Sunda dan aktivitas vulkanis yang tak terprediksi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pertemuan arus antara Laut Jawa dan Samudra Hindia dapat menciptakan kondisi laut yang berbahaya. Gelombang konvergen yang muncul secara mendadak, menurut dia, berpotensi membalikkan perahu berukuran kecil.
Selain faktor oseanografi, Daryono menyoroti risiko paparan gas vulkanik apabila kapal beroperasi terlalu dekat dengan zona bahaya Anak Krakatau.
Ia menyebut karbon dioksida dan sulfur dioksida sebagai contoh gas yang perlu diwaspadai. Menurutnya, paparan gas vulkanik dalam kondisi tertentu dapat mengganggu kesadaran awak kapal sehingga menghambat kemampuan mereka mengirimkan sinyal darurat.
Daryono juga mengemukakan kemungkinan lain, seperti kecelakaan laut akibat kerusakan kemudi atau mesin mati. Kondisi tersebut dapat membuat kapal kehilangan kendali dan kemudian dihantam gelombang.
Korban juga berpotensi terbawa arus menuju perairan luar Samudra Hindia. Skenario lainnya, awak kapal lebih dulu mengalami gangguan akibat gas vulkanik sebelum perahu akhirnya karam.
Atas kejadian tersebut, Daryono menilai penegakan batas zona bahaya pelayaran atau exclusion zone perlu menjadi perhatian serius. Standar keselamatan navigasi juga harus diterapkan secara ketat, khususnya untuk kegiatan peliputan di wilayah dengan ancaman bencana.
“Semangat pantang menyerah para jurnalis dalam menghadirkan visual alam patut dihormati, namun tragedi ini mengetuk kesadaran kita bahwa tak ada satu pun karya fotografi yang sebanding dengan harganya sebuah nyawa,” pungkasnya.

