spot_img

IHSG Berpotensi Volatil usai MSCI Turunkan Skor Indonesia dan BI Naikkan Suku Bunga

Intime – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat berpotensi bergerak volatil dipicu oleh berbagai kombinasi sentimen dari domestik dan global.

IHSG dibuka melemah 10,88 poin atau 0,18 persen ke posisi 6.161,46. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,37 poin atau 0,38 persen ke posisi 614,55.

“Kiwoom Research sarankan para investor atau trader untuk monitor lekat-lekat level support terdekat (6.055), sekaligus memantau potensi break out yang bisa mendobrak neckline 6.300 demi menciptakan pola bullish reversal inverted head and shoulders,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (19/6).

Dari dalam negeri, MSCI untuk pertama kalinya secara eksplisit menurunkan skor Information Flow Indonesia dari “+” menjadi “-” dan mengaitkannya dengan isu transparansi kepemilikan saham, free float, serta coordinated trading behavior yang mengganggu price discovery.

Laporan tersebut, menurut dia, merupakan sinyal peringatan bahwa apabila isu tata kelola pasar, transparansi free float, dan kualitas pembentukan harga tidak membaik, maka discount valuation Indonesia berpotensi bertahan lebih lama dan menjadi salah satu alasan mengapa dana asing masih enggan kembali masuk secara agresif.

Kemudian, investor masih menantikan pengumuman selanjutnya yaitu MSCI Annual Market Classification Review pada Rabu (24/6), pekan depan. ​​​​

Kemarin, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,75 persen, menandai kenaikan ketiga dalam waktu sekitar satu bulan sebagai langkah mempertahankan stabilitas Rupiah di tengah gejolak global dan memastikan inflasi tetap berada dalam target 2,5 plus minus 1 persen pada 2026-2027.

Dari mancanegara, sentimen pasar saat ini ditentukan oleh dua kekuatan yang saling berlawanan. Di satu sisi, kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang ditandatangani di Versailles, Prancis, mendukung risk appetite, menurunkan harga energi, dan mengurangi risiko gangguan pasokan global.

Di sisi lain, kepemimpinan baru Kevin Warsh di The Fed memperkuat narasi higher-for-longer setelah dot plot terbaru, yang menunjukkan peluang kenaikan suku bunga tambahan tahun ini.

Warsh juga mengumumkan pembentukan sejumlah task force untuk mengevaluasi komunikasi The Fed, neraca bank sentral, penggunaan data ekonomi, produktivitas dan tenaga kerja di era AI, serta kerangka inflasi.

Citi menilai kombinasi dot plot yang lebih hawkish, berkurangnya tekanan politik dari Donald Trump terhadap The Fed, dan belum adanya implikasi kebijakan AI dalam waktu dekat menjadi faktor utama penguatan Dollar AS.

“Ke depan, fokus investor akan tertuju pada implementasi kesepakatan damai AS dengan Iran, negosiasi nuklir di Swiss, stabilitas arus pelayaran Selat Hormuz, serta sinyal lanjutan arah kebijakan moneter Eurozone dari para pejabat Europan Central Bank (ECB),” ujar Liza.

Pada perdagangan Kamis (18/6), bursa saham Eropa bergerak variatif, di antaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,29 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 1,14 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,37 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menguat 0,44 persen.

Sementara itu, bursa AS Wall Street kompak menguat pada Kamis (18/6), di antaranya Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,14 persen, indeks S&P 500 menguat 1,08 persen, dan indeks Nasdaq Composite menguat 2,48 persen.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 0,20 persen ke 71.197,00, dan indeks Strait Times menguat 0,35 persen ke 5.194,45.

Sementara itu, indeks Shanghai (China) dan indeks Hang Seng (Hong Kong) libur dalam rangka memperingati Festival Perahu Naga.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini