Kemegahan Stadion, Tanpa Tim

Oleh: Usni Hasanudin, Kaukus Muda Betawi

Sepak bola bukan sekadar pertandingan selama 90 menit. Di dalamnya terdapat strategi, kerja sama, kegagalan, harapan, serta perjuangan mempertahankan identitas sebuah tim. Klub sebesar apa pun tidak akan bertahan tanpa rumah, pendukung, dan sejarah yang menjadi jiwanya.

Jakarta hari ini tengah memainkan pertandingan yang tak kalah penting. Ambisinya jelas: menjadi kota global yang modern, kompetitif, dan berdaya saing internasional. Infrastruktur dibangun, investasi didorong, serta berbagai indikator ekonomi terus diperkuat. Namun, di tengah ambisi tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar: di atas fondasi budaya seperti apa Jakarta akan bertanding?

Kota global tidak hanya diukur dari deretan gedung pencakar langit, sistem transportasi modern, atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kota global membutuhkan identitas yang membedakannya dari kota-kota lain di dunia. Dalam konteks Jakarta, identitas itu adalah Betawi.

Kesadaran tersebut tercermin dalam berbagai survei mengenai persepsi masyarakat terhadap keberadaan Lembaga Adat Betawi. Mayoritas responden menginginkan agar budaya Betawi tidak berhenti sebagai simbol seremonial, melainkan memperoleh dukungan nyata melalui regulasi, kelembagaan, serta pembiayaan yang berkelanjutan. Aspirasi ini menunjukkan bahwa masyarakat memahami satu hal penting: modernisasi tidak boleh memutus akar kebudayaan.

Dalam sepak bola, dominasi penguasaan bola tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Banyak tim unggul justru kalah karena kehilangan fokus pada menit-menit akhir. Jakarta menghadapi tantangan serupa. Pembangunan fisik yang mengabaikan identitas budaya berisiko melahirkan kota yang efisien secara ekonomi, tetapi miskin makna.

Antropolog Johan Huizinga menyebut manusia sebagai homo ludens, makhluk yang membangun peradaban melalui permainan, kreativitas, dan kebudayaan. Bagi masyarakat Betawi, ruang itu hadir dalam lenong, palang pintu, gambang kromong, silat, ondel-ondel, hingga berbagai tradisi lisan yang diwariskan lintas generasi. Semua itu bukan sekadar hiburan, melainkan media pembentukan karakter, solidaritas sosial, dan nilai-nilai kehidupan.

Ironisnya, ruang-ruang kebudayaan tersebut semakin terdesak oleh ekspansi kawasan komersial. Jakarta terus membangun pusat bisnis, apartemen, dan kawasan ekonomi baru, sementara ruang hidup kebudayaan lokal semakin menyempit. Akibatnya, tidak sedikit generasi muda yang lebih mengenal pusat perbelanjaan daripada sejarah kampungnya sendiri.

Padahal, pengalaman berbagai kota dunia menunjukkan bahwa identitas lokal justru menjadi modal utama menuju kota global. Tokyo tetap mempertahankan festival-festival tradisional di tengah kemajuan teknologinya. Seoul menjadikan budaya populer sebagai kekuatan ekonomi kreatif yang mendunia. Singapura pun terus merawat kawasan-kawasan warisan budaya sebagai bagian dari citra internasionalnya. Modernitas tidak dibangun dengan menghapus identitas, melainkan dengan menjadikannya sebagai sumber daya pembangunan.

Karena itu, implementasi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta harus dimaknai secara lebih substantif. Amanat mengenai pelindungan, pengembangan, dan pemberdayaan budaya Betawi tidak boleh berhenti sebagai norma hukum, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan yang nyata. Revisi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen tersebut.

Setidaknya ada tiga langkah strategis yang perlu dilakukan. Pertama, menyediakan alokasi anggaran yang berkelanjutan bagi pengembangan kebudayaan Betawi sebagai investasi sosial, bukan sekadar belanja seremonial. Kedua, memperkuat kelembagaan kebudayaan agar memiliki posisi strategis dalam proses perencanaan pembangunan daerah sehingga isu budaya tidak lagi berada di pinggir agenda pembangunan. Ketiga, melindungi kawasan budaya, ruang ekspresi seni, serta ekosistem ekonomi kreatif Betawi agar tetap tumbuh di tengah transformasi Jakarta menjadi kota global.

Dalam perspektif sosiologi, kota yang kuat adalah kota yang mampu membangun sense of belonging bagi seluruh warganya. Betawi bukan simbol eksklusivitas, melainkan simpul identitas Jakarta. Menempatkan Betawi sebagai wajah kebudayaan Jakarta bukan berarti memberi keistimewaan kepada satu kelompok, tetapi menjaga kesinambungan sejarah kota agar seluruh warga memiliki narasi bersama tentang tempat yang mereka tinggali.

Di era ekonomi kreatif dan attention economy, daya saing sebuah kota tidak lagi ditentukan semata oleh luas kawasan bisnis atau tingginya gedung pencakar langit. Nilai sebuah kota juga ditentukan oleh cerita yang mampu ditawarkannya kepada dunia. Orang datang bukan hanya untuk melihat bangunan, tetapi juga untuk merasakan identitas, tradisi, dan pengalaman budaya yang autentik.

Jakarta sesungguhnya memiliki modal itu. Perjalanan panjang masyarakat Betawi dalam mempertahankan identitas di tengah arus urbanisasi dan globalisasi merupakan kisah yang autentik, sekaligus menjadi kekuatan diplomasi budaya dan daya saing ekonomi di masa depan.

Pada akhirnya, membangun Jakarta sebagai kota global tidak cukup hanya dengan membangun jalan, gedung, dan pusat bisnis. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa kemajuan tetap berpijak pada akar kebudayaan yang telah membentuk kota ini sejak awal.

Seperti sebuah stadion, kota hanya akan hidup apabila memiliki tim yang dicintai para pendukungnya. Betawi adalah ruh yang memberi identitas bagi Jakarta. Tanpanya, Jakarta mungkin tetap tampak megah, tetapi kehilangan jiwa yang membuatnya berbeda.

Jakarta hanya akan benar-benar menjadi kota global apabila mampu menempatkan kemajuan dan kebudayaan berjalan beriringan. Sebab, kota yang besar bukanlah kota yang melupakan asal-usulnya, melainkan kota yang mampu membawa warisan budayanya berdiri sejajar dengan peradaban dunia.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini