spot_img

Kenaikan Harga Pertamax Series Berpotensi Sumbang Inflasi 0,25 Persen

Intime – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman memperkirakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax series, akan memberikan kontribusi terhadap inflasi sebesar sekitar 0,25 persen.

Meski demikian, Aida optimistis tingkat inflasi nasional masih dapat terjaga dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen atau berada pada kisaran 1,5-3,5 persen.

“Tentunya harga BBM nonsubsidi ini akan berfluktuasi tergantung dari harga global tadi. Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25 persen kepada inflasi,” kata Aida di Jakarta, Jumat (19/6).

Menurut dia, harga BBM nonsubsidi masih akan dipengaruhi perkembangan harga energi global yang dipicu dinamika geopolitik internasional. Dalam penyesuaian terbaru, harga Pertamax dan Pertamax Turbo tercatat mengalami kenaikan hingga Rp 4.000 per liter. Sementara itu, harga Dexlite dan Pertamina Dex justru turun sekitar Rp 3.000 per liter.

Selain faktor energi, Aida mengingatkan adanya potensi imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga komoditas global. Salah satunya berasal dari pupuk yang harganya dapat terdampak ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan.

Meski demikian, ia memastikan pasokan pupuk di dalam negeri masih cukup untuk memenuhi kebutuhan petani sehingga risiko kenaikan harga masih dapat dikendalikan.

“Tapi, harga pupuk masih dapat terjaga karena stok produksi dalam negeri yang masih mencukupi kebutuhan para petani,” ujarnya.

Aida menambahkan, tekanan inflasi domestik juga dipengaruhi faktor cuaca. Memasuki musim kemarau, harga komoditas pangan yang masuk kategori volatile food berpotensi mengalami kenaikan.

Untuk menjaga stabilitas harga pangan, BI akan terus berkoordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP).

“Proyeksi inflasi ini mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5 plus minus 1 persen. Jadi paling tinggi kita 3,5 persen,” kata Aida.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini