Intime – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memperkirakan penguatan nilai tukar rupiah masih akan berlanjut pada pekan depan. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 17.450-Rp 17.650 per dolar AS dengan kecenderungan menguat.
Menurut Fakhrul, meningkatnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi Indonesia menjadi faktor yang menopang penguatan mata uang Garuda tersebut.
“Saya memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan,” kata Fakhrul dalam keterangannya, Senin (15/6).
Ia menilai penguatan rupiah saat ini tidak semata-mata didorong oleh sentimen jangka pendek, melainkan mulai didukung oleh perbaikan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter Indonesia.
Fakhrul menyebut, terdapat tiga faktor utama yang menjadi fondasi penguatan rupiah. Pertama, komitmen otoritas moneter menjaga stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga secara kumulatif sebesar 75 basis poin.
Menurutnya, langkah tersebut memberikan sinyal kepada investor bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama.
Faktor kedua adalah penyesuaian harga BBM, terutama Pertamax. Meski dinilai tidak populer, kebijakan itu dipandang pasar sebagai upaya menjaga keberlanjutan fiskal pemerintah.
Ketiga, penyesuaian anggaran sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), dinilai menunjukkan bahwa disiplin fiskal kembali menjadi perhatian utama pemerintah.
“BI sudah bergerak melalui kenaikan suku bunga, sementara pemerintah mulai melakukan penyesuaian fiskal. Kombinasi inilah yang menjadi fondasi penguatan rupiah,” ujar Fakhrul.
Ia mengatakan respons pasar terhadap perubahan kebijakan tersebut mulai terlihat. Pada pekan lalu, rupiah tercatat menjadi mata uang dengan penguatan terbesar kedua di Asia setelah won Korea Selatan.
Fakhrul menilai peluang rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa terbaik di kawasan masih terbuka apabila proses normalisasi fiskal terus berlanjut dan konsistensi kebijakan tetap terjaga.
Selain faktor domestik, perkembangan geopolitik global juga dinilai berpotensi memperkuat rupiah. Memburuknya risiko geopolitik yang mereda, termasuk membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran, diperkirakan dapat meningkatkan minat investor terhadap aset negara berkembang.
“Risiko geopolitik yang menurun biasanya akan mendorong investor kembali masuk ke aset-aset emerging markets, termasuk Indonesia,” katanya.

