Korban Gempa M 7,7 NTT Bertambah Jadi 103 Orang, 185.131 Mengungsi

Intime – Korban meninggal dunia akibat gempa magnitudo (M) 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total korban meninggal kini mencapai 103 orang.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan terdapat tambahan tiga korban meninggal dalam pembaruan data hari ini.

“Saat ini pada hari ini kami mencatat ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini,” kata Berton dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube BNPB, Selasa (25/8).

Berton merinci korban meninggal tersebar di tujuh wilayah. Sebanyak 41 orang meninggal di Manggarai, 34 orang di Manggarai Timur, 13 orang di Nagekeo, enam orang di Sikka, lima orang di Ngada, tiga orang di Ende, dan satu orang di Manggarai Barat.

Selain korban meninggal, jumlah warga yang mengalami luka-luka juga bertambah. BNPB mencatat total korban luka mencapai 1.666 orang atau bertambah 63 orang dari data sebelumnya.

Sementara itu, jumlah pengungsi mencapai 185.131 orang. Mereka terdiri atas warga yang mengungsi secara mandiri maupun yang berada di tempat pengungsian terpusat.

“Hingga hari ini kami mencatat 185.131 orang yang mengungsi, baik itu pengungsi yang mandiri maupun pengungsi yang ada terpusat,” ujar Berton.

Dia mengatakan masih ada tambahan 4.804 pengungsi. Kondisi tersebut terjadi karena gempa susulan masih terus dirasakan warga.

Berdasarkan data BMKG, tercatat 7.029 gempa susulan setelah gempa utama M 7,7 terjadi. Gempa susulan terbesar berkekuatan M 6,2 dan yang terkecil M 1,1.

Pada Selasa, sebanyak 141 gempa susulan dilaporkan dapat dirasakan masyarakat.

“Saat ini gempa susulan sudah tercatat di BMKG sebanyak 7.029 kali, magnitudo terbesar 6,2 yang terkecil 1,1 dan hari ini dapat dirasakan 141 kali gempa,” kata Berton.

Menurutnya, pola gempa susulan masih dapat berlangsung hingga beberapa pekan setelah gempa utama.

BNPB menyebut gempa susulan turut memicu kepanikan dan trauma di kalangan masyarakat terdampak. Karena itu, jumlah pengungsi masih berpotensi bertambah seiring kondisi di lapangan.

“Hingga saat ini kami tetap mendapatkan tambahan pengungsi, memang dapat dipahami ketika gempa yang selalu hadir, gempa susulan ini menimbulkan kepanikan maupun traumatik yang mendalam untuk warga yang mengalami kegempaan tersebut,” imbuhnya

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini