Intime – Direktur Gerakan Perubahan sekaligus Koordinator Indonesia Bersatu, Muslim Arbi, menanggapi langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang resmi mengusut dugaan korupsi dalam proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh.
Ia berharap lembaga antirasuah itu bisa menunjukkan keseriusan dalam membantu Presiden RI Prabowo Subianto memberantas praktik korupsi di Tanah Air.
“KPK harus membantu Presiden Prabowo untuk serius memberantas korupsi sebagaimana janji Prabowo ke publik,” ujar dia dalam keterangan resmi kepada awak media di Jakarta, Selasa (28/10).
Muslim juga mendorong KPK untuk memanggil dan memeriksa Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) serta mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Ia menilai keduanya memiliki keterkaitan dengan proyek KCJB sejak awal.
“Mengapa demikian? Luhut sendiri bersaksi di depan publik: ‘Whoosh ini barang busuk sejak awal’. Artinya Luhut tahu Whoosh ini barang busuk dan jangan diteruskan. Dia harus yakinkan Jokowi untuk tidak meneruskan Whoosh karena barang busuk. Kenapa diteruskan?” tegasnya.
Muslim juga mengingatkan bahwa Ignasius Jonan, yang saat itu menjabat Menteri Perhubungan, diketahui sempat menolak proyek KCJB namun kemudian digantikan dari posisinya, meski dikenal berprestasi saat memimpin KAI.
“Jika Luhut sudah tahu Whoosh sejak awal barang busuk dan tetap membiarkan, itu termasuk kejahatan terhadap negara. Luhut jika memberi masukan ke Jokowi dan Jokowi tidak mau terima, seharusnya Luhut mundur. Karena proyek KCIC merugikan negara dan menjebak dalam debt trap China,” pungkasnya.

