Intime – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap hasil investigasi sementara kasus keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua dan Semarang, Jawa Tengah. Hasil uji laboratorium menemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sejumlah menu makanan, sementara dugaan awal mengarah pada kesalahan prosedur penyiapan dan distribusi makanan.
Budi mengatakan tim Kementerian Kesehatan langsung melakukan investigasi begitu menerima laporan dugaan keracunan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bakteri E. coli ditemukan pada beberapa jenis makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat MBG.
“Begitu ada keracunan, tim Kemenkes langsung turun. Laporannya sudah ada, hasil labnya juga sudah ada. Memang teridentifikasi beberapa makanan mengandung bakteri E. coli,” kata Budi di Jakarta, Kamis (6/8).
Ia menjelaskan, kontaminasi bakteri tidak hanya ditemukan pada buah pendamping seperti semangka, tetapi juga pada lauk pauk hingga makanan utama yang disajikan.
“Bukan hanya semangka tapi juga makanan lain,” ujarnya.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi Kementerian Kesehatan untuk memberikan rekomendasi perbaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN), khususnya terkait standar operasional di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar kejadian serupa tidak terulang.
Menurut Budi, Kepala BGN Sudaryono merespons cepat hasil investigasi tersebut dengan menindaklanjuti berbagai rekomendasi dari Kementerian Kesehatan.
Berdasarkan evaluasi awal, prosedur penyiapan makanan diduga menjadi salah satu pemicu utama kontaminasi. Di Papua, makanan dimasak sejak pukul 07.00–08.00 pagi, namun baru didistribusikan pada pukul 11.00 keesokan harinya. Sementara di Semarang, proses memasak dimulai pada malam hari sebelum makanan dibagikan keesokan harinya.
Rentang waktu yang panjang antara proses memasak dan distribusi dinilai berpotensi meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri apabila penyimpanan dan pengendalian suhu makanan tidak dilakukan sesuai standar keamanan pangan.

