Intime – Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam mengkritik pelaksanaan pendidikan dan pelatihan (diklat) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang bernuansa semi militer. Mufti mempertanyakan keterkaitan metode pelatihan tersebut dengan tugas para manajer koperasi di lapangan.
“Kalau soal nilai disiplin, integritas, dan semangat kebersamaan saya menghormati. Tapi apa relevansi pelatihan bergaya barak, yel-yel, dan pendekatan semi militer dengan tugas utama seorang manajer koperasi?” kata Mufti kepada wartawan, Kamis (18/6).
Mufti menegaskan seorang manajer koperasi tidak bertugas memimpin pasukan, melainkan mengelola usaha agar mampu menghasilkan keuntungan bagi para anggota.
“Tugas manajer koperasi bukan memimpin pasukan. Tugas mereka adalah membaca laporan keuangan, mengelola arus kas, memahami rantai pasok, membangun jaringan pemasaran, mengelola risiko usaha, meningkatkan omzet, dan menghasilkan keuntungan bagi anggota koperasi,” ujarnya.
Politikus PDIP itu menilai pelatihan yang dibutuhkan calon manajer KDMP seharusnya berkaitan dengan kemampuan bisnis dan kewirausahaan. Menurut dia, materi seperti akuntansi, pemasaran, digitalisasi, hingga manajemen stok jauh lebih relevan dibanding sekadar membangun kesan disiplin.
“Yang dibutuhkan adalah pelatihan bisnis, akuntansi, pemasaran, digitalisasi, manajemen stok, dan kewirausahaan. Bukan sekadar membangun kesan disiplin yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kemampuan mengelola usaha,” katanya.
Mufti juga mengingatkan agar ukuran keberhasilan program KDMP tidak hanya dilihat dari kekompakan peserta selama pelatihan. Menurutnya, indikator utama adalah dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat desa.
“Apakah koperasi mampu meningkatkan pendapatan warga desa, membeli hasil panen petani dengan harga yang layak, menyediakan kebutuhan pokok lebih murah, membuka lapangan kerja, dan menghasilkan keuntungan bagi anggotanya,” tutur Mufti.
Ia meminta pemerintah mengevaluasi proses rekrutmen dan pembekalan calon manajer KDMP agar program tersebut tidak kehilangan fokus.
“Jangan sampai program yang mengelola uang rakyat dalam jumlah sangat besar kehilangan fokus pada tujuan utamanya, yaitu membangun koperasi yang profesional, sehat, dan benar-benar menyejahterakan masyarakat desa,” pungkasnya.
Sebelumnya, proses rekrutmen calon manajer KDMP ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam sejumlah unggahan, peserta yang disebut sebagai calon manajer tampak mengenakan pakaian loreng dan mengikuti pelatihan di barak, sehingga memunculkan sorotan terkait pendekatan yang digunakan dalam pembekalan tersebut.


