Intime – Wacana Reformasi Jilid II kembali mengemuka seiring munculnya aksi mahasiswa yang digerakkan oleh aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) di sejumlah daerah sejak awal Juni 2026. Namun, menurut Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign, Nasarudin Sili Luli, kondisi politik saat ini berbeda dengan situasi yang melahirkan Reformasi 1998.
Nasarudin menilai keberhasilan sebuah agenda perubahan besar atau revolusi tidak hanya ditentukan oleh gerakan mahasiswa, tetapi juga dipengaruhi oleh konflik di kalangan elite politik tingkat pertama serta hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
“Pemicu yang paling ampuh adalah krisis ekonomi dan krisis politik terjadi secara bersamaan,” kata Nasarudin dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6).
Ia menjelaskan, stabilitas politik nasional saat ini masih sangat ditopang oleh hubungan yang relatif harmonis di antara elite politik utama. Menurut dia, Presiden Prabowo Subianto memiliki keunggulan karena mampu menjaga komunikasi dengan para presiden sebelumnya serta didukung koalisi kuat di parlemen.
Selama komunikasi antara Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, dan Prabowo Subianto tetap terjalin dengan baik, peluang terjadinya Reformasi Jilid II dinilai kecil.
Nasarudin menambahkan, berbagai persoalan kebangsaan juga masih dapat diselesaikan melalui jalur politik di tingkat pimpinan partai, sehingga potensi eskalasi konflik dapat diredam.
Menurut dia, salah satu faktor utama yang mendorong Reformasi 1998 adalah memburuknya hubungan antara Presiden Soeharto dan sejumlah tokoh kunci nasional. Kondisi tersebut, kata dia, belum terlihat dalam situasi politik saat ini.
Selain itu, ia menilai gerakan Reformasi Jilid II belum memiliki figur mahasiswa yang menjadi simbol perlawanan seperti yang muncul pada era 1998.
“Agenda reformasi jilid II tidak punya ikon gerakan mahasiswa yang bisa menjadi simbol perlawanan terhadap rezim,” ujarnya.
Karena itu, Nasarudin menilai gerakan mahasiswa yang berkembang saat ini belum berlangsung secara masif dan belum memiliki skala yang sebanding dengan gelombang Reformasi 1998.


