Intime – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa (21/7) pagi, dengan penguatan tipis di tengah masih tingginya kehati-hatian pelaku pasar terhadap dinamika ekonomi global. Mata uang Garuda tercatat menguat 11 poin atau 0,06 persen ke level Rp17.937 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.948 per dolar AS.
Penguatan ini menunjukkan adanya perbaikan sentimen pasar setelah tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, apresiasi yang masih terbatas mengindikasikan investor tetap mencermati berbagai faktor eksternal, mulai dari arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, pergerakan indeks dolar AS, hingga perkembangan geopolitik global.
Di sisi domestik, stabilitas fundamental ekonomi dan langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar diperkirakan masih menjadi penopang utama rupiah. Namun, volatilitas diperkirakan tetap tinggi seiring belum meredanya ketidakpastian di pasar keuangan global.
Pelaku pasar juga akan menunggu sejumlah data ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan mata uang, sehingga penguatan rupiah masih berpeluang bergerak dalam rentang yang terbatas selama sentimen global belum menunjukkan perubahan signifikan.

