Intime – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (16/7). Rupiah turun 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp18.071 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.068 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren rupiah yang masih bertahan di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda, baik dari sentimen global maupun faktor fundamental domestik.
Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS masih dipicu ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang mendorong arus modal mengalir ke aset-aset berbasis dolar. Di saat yang sama, ketidakpastian ekonomi global membuat investor cenderung menghindari aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah terjadi ketika pemerintah masih menghadapi tantangan fiskal yang tidak ringan. Utang pemerintah per Maret 2026 telah mencapai Rp9.920,42 triliun, sementara kebutuhan pembiayaan APBN dan pembayaran bunga utang tetap tinggi. Kondisi tersebut membuat ruang fiskal semakin terbatas dan meningkatkan sensitivitas pasar terhadap pergerakan nilai tukar.
Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk bahan baku industri, energi, dan pangan. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini dapat mendorong kenaikan inflasi sekaligus menambah beban pembayaran utang pemerintah maupun swasta yang berdenominasi dolar AS.
Pelaku pasar kini menantikan respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui bauran kebijakan moneter, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan pengelolaan likuiditas, di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

