Intime – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (2/6) pagi dibuka menguat cukup tajam di tengah tekanan nilai tukar rupiah. IHSG naik 82,62 poin atau 1,35 persen ke posisi 6.210,00.
Sejalan dengan itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga bergerak positif dengan kenaikan 5,05 poin atau 0,83 persen ke level 616,22.
Penguatan IHSG ini terjadi di saat rupiah justru masih berada dalam tekanan dan melemah ke level Rp17.859 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan adanya divergensi antara pasar saham dan pasar valuta asing di Indonesia, yang dalam jangka pendek kerap bergerak dengan sentimen berbeda.
Dari sisi analisis, pelemahan rupiah biasanya mencerminkan tekanan eksternal, terutama penguatan dolar AS dan arus modal global yang cenderung keluar dari pasar negara berkembang. Namun, pasar saham domestik tampak masih mendapatkan dukungan dari optimisme investor terhadap saham-saham berbasis komoditas, perbankan, serta ekspektasi stabilitas ekonomi domestik.
Fenomena IHSG yang menguat di tengah pelemahan rupiah juga bisa mengindikasikan bahwa investor asing maupun domestik masih melakukan seleksi sektor (sectoral rotation), bukan keluar total dari pasar. Dengan kata lain, tekanan nilai tukar belum sepenuhnya diterjemahkan sebagai sentimen negatif terhadap pasar saham secara keseluruhan.
Meski demikian, kondisi ini tetap menyimpan risiko. Jika pelemahan rupiah berlanjut dan menekan inflasi atau kinerja emiten berorientasi impor, maka efeknya bisa mulai merambat ke pasar saham dalam periode berikutnya.

