Intime – Nilai tukar Rupiah di pasar spot kembali tertekan dan mencetak rekor penutupan terburuk sepanjang sejarah pada perdagangan terakhir Mei 2026, Jumat (29/5). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.881 per Dolar AS atau melemah 0,2 persen dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.846 per Dolar AS.
Pelemahan Rupiah terjadi di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Level penutupan terbaru ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap mata uang nasional belum mereda dan justru semakin dalam.
Di saat bersamaan, pasar saham domestik juga gagal keluar dari zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,05 persen ke level 6.127.
Meski penurunan IHSG relatif terbatas, tingginya aktivitas perdagangan menunjukkan pasar sedang berada dalam fase penuh kehati-hatian. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan mencapai 46 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp48 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,3 juta kali transaksi.
Kombinasi pelemahan Rupiah dan lesunya IHSG dinilai menjadi sinyal meningkatnya tekanan terhadap perekonomian nasional. Pasar mulai mencermati risiko memburuknya arus modal asing, tingginya kebutuhan impor, serta ketidakpastian global yang terus menekan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan terhadap Rupiah juga dinilai berpotensi memicu inflasi impor, terutama pada sektor energi, bahan baku industri, dan pangan. Jika pelemahan berlanjut, dampaknya dapat merembet pada kenaikan biaya produksi dan menekan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, ruang gerak Bank Indonesia diperkirakan semakin sempit. Upaya menjaga stabilitas Rupiah berisiko berbenturan dengan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi pasar yang masih rapuh.
Situasi ini membuat pelaku pasar menanti langkah lanjutan pemerintah dan otoritas moneter untuk memulihkan kepercayaan investor sebelum tekanan terhadap Rupiah berkembang menjadi sentimen negatif yang lebih luas terhadap ekonomi nasional.

