Intime – Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, membuka kemungkinan penutupan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) akibat tekanan bisnis yang dinilai semakin berat. Wacana itu disampaikan saat pemerintah tengah mempercepat konsolidasi BUMN melalui Danantara.
“PT INTI sekarang menghadapi persoalan serius, mungkin akan kita tutup juga,” kata Dony dalam Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Sabtu (23/5).
Dony menilai persoalan utama BUMN selama ini muncul karena masing-masing perusahaan berjalan sendiri tanpa sistem yang terintegrasi. Akibatnya, BUMN sehat tidak bisa membantu perusahaan negara lain yang tengah mengalami krisis.
“BUMN sebelumnya berdiri sendiri-sendiri. Banyak yang tidak tahu kondisi itu,” ujarnya.
Ia mencontohkan, laba perusahaan besar seperti Bank Rakyat Indonesia dan Bank Mandiri sebelumnya tidak dapat digunakan untuk menopang perusahaan pelat merah lain yang sedang tertekan secara finansial.
Karena itu, pemerintah kini mendorong konsolidasi melalui Danantara yang disebut sebagai sovereign wealth fund berbasis perusahaan negara agar kekuatan BUMN bisa saling menopang.
Pemerintah Sudah Bubarkan Tujuh BUMN
Wacana penutupan PT INTI menambah daftar panjang BUMN yang menghadapi masalah keuangan dan keberlanjutan bisnis. Sebelumnya, pemerintah telah resmi membubarkan tujuh perusahaan pelat merah pada akhir 2023 sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran.
Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset, Teguh Wirahadikusumah, menyebut pembubaran dilakukan berdasarkan kondisi kesehatan keuangan, kontribusi terhadap ekonomi nasional, serta keberlanjutan model bisnis perusahaan.
Tujuh BUMN yang dibubarkan pemerintah meliputi:
- PT Kertas Kraft Aceh
- PT Pengembangan Armada Niaga Nasional
- PT Industri Gelas
- PT Istaka Karya
- PT Industri Sandang Nusantara
- PT Merpati Nusantara Airlines
- PT Kertas Leces
Pemerintah menilai langkah pembubaran diperlukan untuk merampingkan portofolio BUMN sekaligus memperkuat struktur perusahaan negara yang masih sehat dan produktif.

