Trump-Xi Berdamai Sementara, Ekonom Peringatkan Dunia Belum Keluar dari Ancaman Perang Ekonomi

Intime – Pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping dinilai belum menjadi tanda berakhirnya rivalitas dua raksasa ekonomi dunia. Di balik diplomasi dan kesepakatan dagang sementara, ancaman perang tarif dan perebutan dominasi global disebut masih membayangi ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menilai pertemuan kedua pemimpin tersebut lebih tepat dibaca sebagai upaya mengelola konflik agar tidak berubah menjadi benturan terbuka.

“Ini bukan akhir rivalitas, melainkan gencatan senjata ekonomi sementara,” kata Achmad dalam keterangan tertulisnya yang diterima intime, Selasa (19/5).

Menurutnya, dunia saat ini sedang menghadapi pola klasik Thucydides Trap, yakni situasi ketika kekuatan lama merasa terancam oleh kebangkitan kekuatan baru hingga berujung konflik besar.

Amerika Serikat disebut berusaha mempertahankan dominasi dolar, teknologi, dan pasar keuangan global. Sementara China terus memperkuat posisinya sebagai pusat manufaktur, perdagangan, dan teknologi dunia.

Achmad mengibaratkan hubungan kedua negara seperti “dua gajah besar yang menari di atas lantai kaca”.

“Ketika mereka bergerak lembut, dunia bisa bernapas. Tapi ketika salah satu terpeleset, negara berkembang seperti Indonesia ikut terluka,” ujarnya.

Ia menyoroti langkah China yang dikabarkan siap membeli sedikitnya 17 miliar dolar AS produk pertanian Amerika hingga 2028 sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan dagang. Namun di saat yang sama, perang tarif disebut telah mengubah peta perdagangan global secara drastis.

Data Reuters mencatat ekspor pertanian Amerika Serikat ke China anjlok 65,7 persen pada 2025 menjadi hanya 8,4 miliar dolar AS akibat konflik tarif. Ketergantungan China terhadap kedelai AS juga turun tajam dari 41 persen pada 2016 menjadi 20 persen pada 2024.

Achmad menilai situasi global tersebut ikut memberi tekanan terhadap ekonomi domestik, termasuk nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS.

Menurutnya, gejolak perang dagang dan penguatan dolar AS membuat investor global lebih berhati-hati menempatkan modal di negara berkembang.

“Rupiah menjadi salah satu yang paling rentan terkena dampak ketika rivalitas AS dan China kembali memanas,” katanya.

Ia memperingatkan, jika perang tarif kembali meningkat, tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan Indonesia bisa semakin berat. Kondisi itu berpotensi memicu kenaikan biaya impor, tekanan inflasi, hingga perlambatan aktivitas industri dalam negeri.

“Indonesia tidak berada di ruang hampa. Ketika dua raksasa ekonomi dunia bertabrakan, dampaknya langsung terasa ke rupiah, pasar saham, sampai harga kebutuhan masyarakat,” tandasnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini