Intime — Tokoh perempuan Nahdlatul Ulama (NU), Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, mendorong Muktamar ke-35 NU menjadi momentum mengakhiri ketegangan internal dan menyatukan kembali seluruh kelompok di tubuh organisasi.
Menurut Yenny, siapa pun yang terpilih memimpin NU memiliki tanggung jawab utama untuk merajut kembali hubungan antar-faksi yang sempat mengalami gesekan.
“Siapa pun yang terpilih, kewajiban utamanya adalah menyatukan seluruh faksi yang terlibat dalam pertikaian,” kata Yenny di Jombang, Jawa Timur, Rabu (19/8).
Putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu menilai muktamar tidak boleh berhenti pada agenda pergantian kepemimpinan. Forum tersebut harus menjadi titik balik untuk mengakhiri polarisasi dan memperkuat kembali soliditas warga NU.
Yenny berharap kepengurusan PBNU yang terbentuk melalui muktamar segera melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi secara menyeluruh. Proses tersebut, kata dia, harus dilakukan tanpa mengedepankan kepentingan kelompok tertentu.
Menurut Yenny, seluruh elemen NU perlu kembali menjadikan prinsip dasar organisasi dan warisan para pendiri sebagai pijakan bersama.
“Mengembalikan NU kepada khitahnya dan menjadikan Qanun Asasi sebagai prinsip dasar dalam menjalankan NU,” ujarnya.
Yenny juga mengingatkan agar dinamika menjelang muktamar tidak justru melahirkan faksi-faksi baru yang memperpanjang konflik internal. Ia berharap kepemimpinan baru mampu merangkul seluruh kelompok dan mengembalikan NU sebagai organisasi yang solid.
“Jangan sampai muktamar hanya menghasilkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang lebih penting, setelah muktamar seluruh warga NU bisa kembali berjalan bersama,” tegasnya.
PBNU dijadwalkan menggelar Muktamar ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Pembukaan muktamar dijadwalkan dihadiri Presiden Prabowo Subianto.

